Pada ketika usianya delapan tahun, Nabi Muhammad saw. memberikan keinginannya untuk menggembala kambing kepada pamannya, Abu Thalib. Sang paman kaget mendengar hal itu. Ia berusaha mencegahnya, namun gagal. Begitu pula dengan sang bibi, Fatimah binti Asad, istri Abu Thalib. Keduanya bahwasanya tidak tega jika keponakannya yang masih kecil itu harus bekerja menggembala kambing. Akan tetapi tekad Nabi Muhammad saw. begitu lingkaran sehingga tidak dapat dihentikan.

Mau tidak mau balasannya Abu Thalib menuruti impian Muhammad saw.. Bahkan, ia mencarikan ‘bos’ bagi Muhammad saw. Abu Thalib menghubungi kenalannya dari orang Quraisy yang kaya dan mempunyai banyak kambing, untuk digembala Muhammad saw. 

Sang bibi, Fatimah binti Asad juga sama. Ia selalu mengantar Muhammad saw. sampai ke lisan pintu ketika keponakannya itu hendak berangkat menggembala. Tidak hanya itu, Fatimah juga selalu menyiapkan bekal makanan untuk Muhammad saw. Selama Muhammad saw. menggembala, Fatimah selalu gelisah. Khawatir sesuatu yang jelek terjadi kepada keponakan terkasihnya. Oleh karenanya, Fatimah selalu menanyakan banyak hal kepada Muhammad saw.  Tidak lain untuk memastikan jika keponakannya itu baik-baik saja. 

Lantas apa yang menciptakan Muhammad saw. memutuskan untuk menggembala kambing? Mengapa tidak melaksanakan hal yang lainnya misal berdagang atau jualan? Dan di usia  yang masih belia menyerupai itu, bukankah bawah umur biasanya sibuk bermain ke sana kemari?  

Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), setidaknya ada tiga alasan mengapa Muhammad saw. balasannya memutuskan untuk bekerja menggembala kambing. 

Pertama, membantu meringankan beban keuangan pamannya, Abu Thalib. Setelah ibunya, Aminah, wafat, Muhammad saw. hidup di rumah kakeknya, Abdul Muthalib. Kemudian ketika Abdul Muthalib wafat, Muhammad saw. balasannya hidup bersama pamannya, Abu Thalib. Pada ketika awal-awal tinggal bersama Abu Thalib, Muhammad saw. biasa-biasa saja. Beliau bermain dan makan bersama dengan bawah umur Abu Thalib. 

Namun usang kelamaan, Muhammad saw. mulai sadar bahwa kondisi ekonomi pamannya memprihatinkan. Ditambah pamannya juga mempunyai anak yang banyak. Hal itulah yang menggerakkan Muhammad saw. untuk berbuat sesuatu. Bekerja apapun itu, yang penting dapat menghasilkan uang untuk sekedar membantu ekonomi keluarga pamannya. Mungkin ini yang menjadi alasan utama Muhammad saw. menggembala kambing. 



Kedua, menggembala kambing tidak butuh modal. Boleh dikata jika Muhammad saw. sudah berpikir secara mendalam untuk mengambil profesi sebagai penggembala kambing. Profesi itu yaitu sempurna dan pas bagi dirinya yang usianya masih belia dan tidak mempunyai modal. Muhammad saw. sadar bahwa pada ketika itu semua pekerjaan sudah dikerjakan budak, kecuali berdagang. Namun untuk berdagang harus mempunyai modal, sementara Muhammad saw. tidak mempunyai itu. Sementara ia ingin sekali membantu meringankan beban pamannya.

Akhirnya ia menemukan satu pekerjaan yang pas untuk dirinya dan tidak memerlukan modal, yaitu menggembala kambing. Tidak lain, itu semata-mata dilakukan untuk membantu meringankan beban ekonomi pamannya, Abu Thalib. 

Ketiga, Muhammad saw. suka berada di padang terbuka yang luas. Muhammad saw. sangat bahagia dengan padang terbuka yang luas. Di sana, ia dapat merenungkan alam dengan segala keindahan dan kebesarannya. Di padang terbuka pula Muhammad saw. bebas merenungkan segala sesuatu secara mendalam tanpa ada yang mengganggunya. Oleh alasannya yaitu itu, ia memutuskan untuk menggembala kambing di padang terbuka yang luas di wilayah Makkah.

Muhammad saw. menjadi penggembala kambing kurang lebih selama empat tahun. Ketika usianya 12 tahun, Muhammad saw. tidak lagi menjadi penggembala kambing alasannya yaitu alasan tertentu pula.

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Sepanjang hayat, ketika Rasulullah memimpin ibadah, tidak pernah sekalipun menyusahkan para sahabat yang menjadi makmumnya. Hal ini alasannya ialah kegiatan yang dilakukan Rasulullah selalu sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat, juga tidak terlampau lama. Rasulullah tidak berlebihan. 

Sahabat Abdullah bin Jabir mengakui lewat ceritanya yang terekam pada sebuah hadits sebagai berikut: “Saya shalat bersama Nabi saw.  berkali-kali. Shalat dia sedang, khutbahnya juga sedang (tidak terlalu cepat dan tidak terlampau lama).” (HR Muslim) 

Satu ketika Salman al-Farisi berkunjung ke rumah Abu Darda’. Kita tahu, keduanya sudah diikatkan persaudaraan oleh Rasulullah saw. Rasulullah banyak mengikatkan persaudaraan sahabat, antara kaum Muhajirin sebagai pendatang dengan kaum Anshar sebagai pribumi. Sahabat Salman yang populer dengan pandangan gres briliannya menciptakan parit pada perang Khandaq ini merupakan orisinil warga Persia. Oleh Baginda Nabi Muhammad saw., ia diikatkan persaudaraan dengan warga lokal (Anshar) berjulukan Abu Darda’.

Saat Salman masuk ke rumah Abu Darda’ pada suatu ketika ia melihat ibunda Abu Dar’da sedang menggunakan pakaian lusuh yang kurang layak pakai. Salman mencoba menelisik, apa gerangan yang mengakibatkan ibunda Abu Darda’ menggunakan pakaian yang sedemikian buruk.

“Bu, Anda ini kenapa?” tanya Salman pada sang Ibu. 

“Itu lho, saudaramu Abu Darda’ sudah tidak butuh dunia lagi.” terperinci sang ibu

Setelah menyampaikan begitu, Abu Darda’ datang, ia mempersiapkan jamuan makan untuk tamu yang sekaligus saudaranya tersebut. Sembari mempersilahkan, Abu Darda’ mengatakan, “Ayo, silakan dimakan. Saya sedang puasa ini.”

Salman menjawab, “Tidak, saya tidak mau makan jika kau tidak juga makan.” 

Akhirnya mereka makan bersama-sama. 

Usai makan, Salman menginap di rumah Abu Darda’. Di dalam keheningan malam, di ketika seluruh anggota keluarga tidur, Abu Darda’ yang sedang tidur bersama Salman meninggalkan daerah tidurnya. Ia melaksanakan shalat malam. Namun tiba-tiba Salman menyergahnya. “Ayo, tidur lagi!” suruh Salman. 

Setelah Abu Darda’ tidur, ia bangkit lagi, dan disuruh tidur lagi oleh Salman untuk yang kedua kalinya. Hingga mereka berdua memasuki waktu fajar. Saat fajar benar-benar menyapa, Salman gres kemudian mengajak Abu Darda’ bangun. “Nah, jika sekarang, ayo bangun!” Mereka berdua melaksanakan shalat secara berjamaah. 

Usai shalat, Salman menasihati saudaranya tersebut, “Tuhanmu memiliki hak yang harus kau tunaikan. Tubuhmu juga memiliki hak yang harus kau berikan. Begitu pula keluargamu juga memiliki hak yang wajib kau penuhi. Berilah haknya masing-masing sesuai porsinya.”

Setelah menerima nasihat, Abu Darda’ sowan kepada Baginda Rasul saw. Ia menuturkan kisah yang gres saja terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Benar apa yang dikatakan Salman.” (HR Bukhari)



Hampir senada dengan dongeng di atas, hadits riwayat dari Anas. Satu ketika Nabi Muhammad saw. masuk ke dalam masjid. Di sana, Rasul melihat ada tali yang membentang antara dua tiang masjid. 

“Tali apa ini?” tanya Rasul 

“Oh, itu tali milik ibu Zaenab, Ya Rasul. Saat letih, dia berpegangan pada seutas tali itu,” jawab sahabat. 

Rasul kemudian berpesan, “Lepaskan tali itu. Shalatlah kalian ketika bugar. Ketika capek, tidurlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits-hadits di atas menunjukkan pelajaran kepada kita, ibadah-ibadah sunnah itu sangat anggun nilai pahalanya. Namun kita perlu adil dalam membagi waktu. Jangan hingga kita beribadah, namun ada hak lain yang harus kita penuhi namun belum terbayarkan. Apalagi, makna ibadah sejatinya amat luas. Ia tak sebatas pada ritual-ritual, tapi juga meliputi banyak sekali acara lain menyerupai bekerja, memasak, merawat keluarga, dan lainnya yang dilandasi niat ibadah. 

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, kita meyakini adanya mukjizat bagi para nabi. Begitupula karomah bagi para kekasih Allah swt., atau biasa kita sebut wali Allah. Tokoh yang akan kita bicarakan kali ini sudah tidak gila lagi di indera pendengaran para muhibbin Indonesia, khususnya para santri Pondok Pesantren al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor.

Diantara keistiqomahan Habib Saggaf ialah di setiap malam sehabis dia pulang dari keliling kota selalu mengontrol murid-muridnya yang sedang beristirahat tidur malam.

Bisa Melihat Sosok Iblis

Suatu saat, Habib Saggaf sedang berjalan menuju ke kediaman dia sepulang dari asrama putra (al-Ashriyyah Nurul Iman) tepatnya pada hari Selasa malam Rabu pukul 22.15 WIB tahun 2003, datanglah seseorang yang mengenakan jubah layaknya seorang ulama dan mengaku bahwa dirinya ialah malaikat Jibril.

Melihat kejadian itu Habib Saggaf berteriak dengan bunyi yang sangat keras seraya berkata: “Anta Iblis!”. Kemudian sosok berjubah itu pun hilang seketika.

Terbang Di Atas Rombongan Jamaah Umrah

Kisah selanjutnya diceritakan oleh Syaikh Ahmad Shiddiq, utusan Raja Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Tepatnya pada tahun 2005, ketika Raja Abu Dhabi sakit keras dan berobat ke banyak sekali tabib namun belum juga sembuh, kesannya diutuslah seorang utusan ke Indonesia untuk menemui Habib Saggaf bin Mahdi yang sudah usang dikenal oleh raja dan pemerintahan Abu Dhabi. Dengan seruan itu, Habib Saggaf pun mengabulkan permintaannya.

Setelah selesai menepati impian raja, dia sebelum pulang ke Indonesia menyempatkan diri untuk umrah dan ziarah kepada sang kakek, Nabi Muhammad saw.

Saat Habib Saggaf di Ka’bah dia hendak mencium Hajar Aswad, namun terhalang oleh kerumunan jamaah yang lain sehingga beliaupun tidak sanggup mendekat pada Hajar Aswad itu. Tiba-tiba datanglah seseorang yang tinggi besar dan meletakan dia di atas telapak tangannya kemudian dihadapkan ke Hajar Aswad. Syaikh Ahmad Shiddiq (utusan Raja Abu Dhabi) yang menyaksikan kejadian tersebut. Sang utusan itu melihat sang habib terbang di atas jamaah haji.

Ditemui Rasulullah Di Makamnya

Selesai melakukan umrah, Habib Saggaf ziarah ke makam Rasulullah saw. Ketika dia mendekati dinding makam Rasulullah saw. dia mengulurkan sorbannya untuk mengharap keberkahan Nabi saw. Melihat hal ini, sang opsir penjaga (muthawi’) menyeret dia sambil berteriak: “Bid’ah!”. Lalu Habib Saggaf dipukuli oleh opsir tersebut.

Tiba-tiba keluarlah Rasulullah saw. dari arah dinding makam yang disaksikan oleh semua jamaah yang hadir waktu itu. Rasulullah saw. menampakkan Nur-nya yang menyelimuti Habib Saggaf.

Kemudian Rasulullah saw. mengulurkan tangannya seraya bersabda: “Saggaf, masuklah bersamaku.”

Dengan tawadhu’ Habib Saggaf menjawab: “Cukup di sini saja wahai Rasulullah, supaya sama dengan yang lainnya. Saya mengharap syafaatmu wahai Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah saw. menjawab: “Aku beri syafaat padamu, wahai cucuku.”

Inilah secuil kisah karomah Habib Saggaf bin Mahdi BSA yang sudah masyhur diceritakan dari santri ke santri, dan kemudian menyebar ke khalayak umum sehabis kewafatan beliau. Mari kita hadiahkan bacaan surah al-Fatihah teruntuk dia yang telah mendahului kita. ‘Ala kulli niyyatin shalihah wa ila hadhratin Nabi saw. al-Fatihah...



Beberapa Karomah Habib Saggaf Dari Sumber Lain

Tidak diragukan lagi bergotong-royong Syaikhuna Al Kabir Al Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salim, termasuk waliyullah alasannya ialah sifat-sifat kewaliannya secara lahiriyah telah tampak pada orang banyak. Karomah kewaliannya sudah terperinci semenjak dia mondok.

Karomah yang Allah tampakkan pada Abah (sapaan akrabnya beliau) cukup banyak, baik yang dialami satu orang saksi, orang banyak atau melalui tutur katanya. Adapun yang akan disampaikan hanya sebatas yang diketahui, selain itu kami tidak sanggup sebutkan alasannya ialah ketidaktahuan kami. Di antara karomahnya ialah sebagai berikut:

Mendapat Pesan Langsung Dari Rasulullah

Ketika akan mendirikan pondok (al-Ashriyyah Nurul Iman) ini, Beliau i’tikaf di makam Rasulullah saw. Saat itu sanggup saja mendirikan pondok pesantren di Negara manapun yang dia inginkan alasannya ialah keluasan ilmu yang dimilikinya tidak diragukan lagi. Beliau sangat menginginkan berjumpa dengan Rasulullah dalam keadaan sadar (yaqodzoh) dengan tujuan mengharap keridhoan dan aba-aba dari Rasulullah. Namun yang tiba justru wali-wali Allah sambil menyodorkan banyak sekali hal diantaranya ilmu, dunia, harta, karomah dan lain-lain supaya dia tidak perlu melanjutkan usaha tersebut. Dan semua itu tak sedikitpun menggoyahkan tekadnya.

Akhirnya, perjuangannya yang gigih tidak sia-sia alasannya ialah sehabis beberapa tahun, Rasulullah muncul di hadapannya dari hujrah (kamar) Nabi saw. Lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi. Nabi pun menjawab salamnya, dan dipeluknya erat seraya bersabda: 

ارجع الى اندنسى فيها بركة

“Pulanglah ke Indonesia, di dalamnya ada barokah”

Akhirnya, dia pulang ke Indonesia dan berdirilah pondok terakhirnya di Parung Bogor yang berjulukan Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School.

Memperlihatkan Pohon Uang

Suatu ketika, ada seorang tamu yang mengunjungi beliau, meminta sebuah amalan. Abah mengijazahkan amalan “sajaratun nuqud” yang dijelaskan bahwa siapa orang yang mengamalkannya akan mempunyai pohon uang di depan rumahnya. Tamu tersebut tidak percaya akan hal itu. Tidak usang kemudian dia mengajak orang tersebut masuk ke dalam kamarnya.

“Kamu mau lihat pohon uang itu bagaimana?” kata Abah

“Iya, Bib.”, jawab tamu

“Itu, lihat!” sambil menunjuk ke arah jendela kamar.

Dan di luar jendela tampak pohon yang penuh dengan uang, berdaun uang. Terkejutlah si tamu. Lalu minta izin untuk keluar dari kamar ingin melihat dari dekat. Sesampainya di sana pohon tersebut hilang. Seraya bertanya : “Mana pohonnya, Bib?”

“Tadi kan sudah lihat”, jawabnya enteng sambil tersenyum.

Mendapat Tongkat Dari Rasulullah

Setelah Idul Fitri tahun 2009, beberapa hari kemudian Abah kedatangan tamu dari Madinah, berjulukan Syaikh Jibril, seorang penjaga makam Rasulullah. Padahal dia tidak kenal sebelumnya dengan orang tersebut. Dikatakan oleh Syaikh Jibril yang tiba mengunjungi beliau, bahwa kedatangannya semata-mata hanya untuk menawarkan tongkat kepadanya atas perintah Rasulullah dalam perjumpaannya di dalam mimpi. Dan tongkat itu masih ada hingga sekarang.

Terjadi Bencana Setelah Urusannya Dipersulit

Pernah suatu dikala Abah pergi ke Bandung bersama Umi, istrinya, untuk mengurus santri-santrinya semoga Sekolah Tingginya menerima legalitas dari koopertais Bandung. Sesampainya disana, dia tidak dilayani dengan baik. Rupanya birokrasi di sana sangat berbelit-belit, dia dan istrinya dioper ke sana ke sini hingga hal itu membuatnya murka dan kecewa, dan pulang dengan tanpa hasil. 

Tatkala dalam perjalanan pulangnya, di tengah jalan keduanya singgah di rumah makan. Belum juga masuk ke daerah makan tersebut, kira-kira jam 3 sore terjadi gempa dahsyat berkekuatan 7,3 SR mengguncang Jawa Barat yang berpusat di 142 km barat daya Tasikmalaya, yang mengakibatkan puluhan ribu bangunan rumah, gedung pertokoan rusak. Bahkan terjadi longsor di Cianjur yang mengakibatkan 11 rumah tertimbun. Peristiwa ini terjadi tanggal 2 September 2009. Tak usang sehabis gempa berhenti, Abah ditelepon Bagian Koopertais Bandung yang hendak meminta maaf kepadanya.

Kewaliannya Diakui Oleh Nabi

Salah seorang teman Abah pernah suatu ketika merasa ragu akan kewaliannya. Dia sudah mengunjungi para Habaib dan Kiai yang dikatakan waliyullah dan merasa kagum pada mereka. Sedangkan menurutnya, kelebihan dia hanya sebatas memberi makan orang banyak saja. Suatu hari,  orang tersebut umrah, terlintas kembali keraguan akan Abah di depan makam Rasululah. Tiba-tiba muncul bunyi tanpa rupa seraya berkata:

هو قطب الاولياء هذا الزمان

“Dialah (Habib Saggaf) ialah wali quthub pada zaman ini”

Sepulang dari umrah dia eksklusif mengunjungi Abah dan menceritakan semua tragedi itu. Dan Abah berpesan padanya, “Jangan engkau buka (cerita) ini kecuali saya sudah tidak ada (wafat)”. Maka sampailah kisah ini sehabis dia wafat.


Habib Saggaf bin Mahdi


Beberapa Karomah Lain Yang Dimiliki Habib Saggaf

Sebenarnya masih banyak lagi yang belum diceritakan antara lain:

1.) Abah meminum muntahan gurunya yang Abah lihat ialah nur.

2.) Abah ‘uzlah di dalam kamar selama 5 tahun, setiap malam didatangi Rasulullah hingga kasyafnya terbuka.

3.) Abah sanggup membeli batu-batu mulia dari Nabi Khidir.

4.) Abah sanggup uang dari makam auliya’ (para wali), pintu makam wali tersebut terbuka sendiri dan ketika tahlil nisannya ikut bergoyang.

5.) Seorang ibu wali santri bertemu Abah, padahal Abah sudah wafat satu tahun yang lalu.

6.) Beberapa wali santri yang sedang umrah melihat Abah di Makkah sedang sholat di bersahabat Ka’bah, padahal Abah sudah wafat 6 bulan yang lalu.

7.) Abah sering memberi uang dengan jumlah yang pas sesuai dengan kemauan orang itu.

8.) Abah sanggup mengusir jin/iblis yang mau masuk ke pondok.

9.) Abah sanggup menahan ruh santri yang akan meninggal yang hendak dibawa malaikat maut.

10.) Abah pernah bertemu dengan para nabi di dalam mimpi.

11.) Abah menerima ilmu hanya dengan makan banyak.

12.) Abah pernah bertemu Nabi Khidir yang sebelumnya ibarat anjing.

13.) Setiap orang yang bermimpi Nabi niscaya disitu ada Abah dan Rasulullah atau Rasululah mirip Abah.

14.) Abah pernah pergi bersama Habib Husein (putra Habib Umar bin Muhammad bin Hud al-Athos) seharian penuh keliling-keliling kebunnya, padahal cuma satu jam, sehabis Habib Umar bin Muhammad bin Hud al Athos meninggal, Abah disuruh menggantikan kedudukan maqomnya tapi Abah menolak.

15.) Abah juga mempunyai sorban berwarna putih yang sanggup mengeluarkan uang. Sorban tersebut didapatkannya dari Habib Sholeh Tanggul.

16.) Abah pernah ditelepon dikala ta’lim tafsir, muridnya yang berada di Singapura berkata “Mengapa Abah tidak mampir ke rumahnya selepas ceramah”, padahal Abah waktu itu tidak pergi kemana-mana.

17.) Abah sanggup mendengar rintihan orang yang sedang disiksa kubur.

18.) Seorang santri melihat Abah jalan-jalan di kebun milik pondok, padahal waktu itu Abah sedang pergi keluar kota. 

19.) Abah juga pernah didatangi wanita berjilbab yang menyampaikan bahwa Habib jangan hanya mendapatkan santri pria saja, wanita juga. Setelah Abah mengiyakan, wanita itupun menghilang.

20.) Pernah tiba seorang tamu yang meminta semoga Abah berjanji untuk menawarkan syafaat padanya nanti di akhirat.

Belum lagi tragedi yang pernah dialami oleh orang-orang di sekitar beliau. Dan karomah dia yang juga tidak sanggup orang pungkiri ialah memberi makan puluhan ribu santri. Orang lain menafkahi satu keluarga saja sudah kepayahan, bagaimana dengan hal ini, Abah sanggup menafkahi puluhan ribu santri?

Diceritakan oleh salah satu santri Habib Saggaf bin Mahdi

Sumber: pustakamuhibbin.blogspot.com dan budibarakat.blogspot.com
Tradisi mulia berupa cium tangan di antara orang-orang shaleh kerap terlihat ketika mereka bertemu. Pemandangan penuh ta’dzim di antaranya terlihat ketika dua tokoh kuat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Habib Saggaf bin Mahdi Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat bertemu dalam sebuah perhelatan yang dihadiri banyak orang.

Kedua tokoh yang bersahabat baik ini memang sudah menjalin keakraban. Keakraban tersebut menciptakan langsung Habib Parung (sebutan Gus Dur untuk Habib Saggaf) banyak berguru dari gerakan, pemikiran, dan dedikasi Gus Dur terhadap kemanusiaan, bangsa, dan negara. Hal ini terbukti ketika Habib Parung juga bersahabat baik dengan siapa pun, baik dari kalangan Muslim dan non-Muslim.

Dalam buku “Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa” yang dieditori oleh Alamsyah M. Djafar dan Wiwit R. Fatkhurrahman (2017), Habib Saggaf bin Mahdi berupaya menarik sanad atau geneologi interaksi keluarganya dengan kakek dan orang renta Gus Dur, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim.

“Bisa mengenal sosok ini (Gus Dur) tentu aku sangat bersyukur. Sungguh aku merasa cocok berteman dengan laki-laki kelahiran Jombang ini. Dia yaitu guru bangsa sekaligus guru aku juga,” kata Habib Saggaf.

Seorang saudara dari nenek Habib Saggaf, Syekh Muhammad bin Ali al-Musalli memiliki kisah khusus dengan kakek Gus Dur, KH. Hasyim Asy’ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Menurut keterangan Habib Saggaf, ternyata Syekh Muhammad pernah berguru di Jombang, berguru kepada Kiai Hasyim Asy’ari.

Dari proses ngaji kepada Kiai Hasyim Asy’ari, Syekh Muhammad mendapat amalan berupa Surah Al-Fatihah kemudian amalan tersebut diturunkan ke Habib Saggaf dan anaknya yang kala itu masih berumur 13 tahun.

Setiap hari Habib Saggaf membacakan amalan tersebut bersama anak Syekh Muhammad yang merupakan besannya. Amalan tersebut dibaca di musholla kecil di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), daerah kelahiran Habib Saggaf.

Dari ijazah berupa amalan tersebut, Habib Saggaf sudah menganggap Kiai Hasyim Asy’ari berikut keturunannya merupakan gurunya. Terlebih, Kiai Wahid Hasyim seringkali tiba dan menginap di rumah Syekh Muhammad di Dompu.

Selama interaksinya dengan Gus Dur, Habib Saggaf tidak menyangkal bahwa putra sulung Kiai Wahid Hasyim tersebut memang salah seorang yang unik, bahkan sebagian orang menyebutnya aneh. Menurut Habib Saggaf, orang berbicara abnormal wacana Gus Dur alasannya yaitu mereka melihatnya sepintas, tanpa melaksanakan pengamatan lebih dekat terhadap sejatinya Gus Dur.

Habib Saggaf Mencium Tangan Gus Dur


Menurut dongeng Habib Saggaf dalam buku yang sama, sekitar tahun 2006 Gus Dur divonis mengalami gangguan ginjal sehingga harus menjalani basuh darah secara rutin. Kali pertama menjalani basuh darah keluarga sempat menjemput Habib Saggaf di Parung demi membujuk Gus Dur yang ‘bandel' tak mau menjalani basuh darah.

"Habib, aku minta tolong untuk menasehati Gus Dur," kata Habib Saggaf menirukan permohonan Yenny Wahid, putri kedua Gus Dur. Permintaan tersebut diamini Habib Saggaf. Ia kemudian tiba ke rumah Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Anehnya, belum sempat mengutarakan niatnya membujuk, Gus Dur malah sudah tahu jikalau salah satu misi Habib Saggaf yaitu membujuk dirinya biar mau basuh darah. Tapi bujukan Habib hasilnya berhasil. Gus Dur pun mau menjalani basuh darah.

Hubungan Habib Saggaf dan Gus Dur makin dekat menjelang Muktamar Luar Biasa PKB di pesantrennya, Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung. Bahkan ketika terjadi konflik internal PKB, Gus Dur sempat meminta saran pendapat Habib Parung, perihal perlu tidaknya PKB dibubarkan.

Habib Saggaf yang pernah berguru ke Masjid Sayyidina Abbas di Aljazair dan pernah i'tikaf di Makkah selama lima tahun itu menyarankan ke Gus Dur dikala itu untuk tidak membubarkan PKB.

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Memahami sosok KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009) tak lepas dari seorang tokoh yang rajin bersilaturrahim dengan siapa pun. Baik dengan orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal. Bahkan, Gus Dur yaitu salah seorang yang dianggap bisa berkomunikasi dengan orang yang diziarahinya di alam kubur.

Ketika menghadapi banyak sekali masalah bangsa, baik dikala belum menjadi Presiden RI maupun sesudah memangku jabatan presiden, Gus Dur lebih menentukan berkomunikasi dengan orang yang sudah meninggal dengan mengunjungi makamnya, ketimbang melaksanakan lobi-lobi politik.

“Saya tiba ke makam, lantaran aku tahu, mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” kata Gus Dur

Ada sebuah kisah ketika Gus Dur ingin berkunjung ke makam salah seorang leluhurnya, Syekh Ahmad Mutamakkin di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Gus Dur memang selalu menyempatkan mampir ke makam Mbah Mutamakkin dikala sedang melewati tempat Pati.

Menurut riwayat yang diceritakan KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Gus Dur kala itu mengabarkan ingin bertemu dengan dua orang kiai dari Kajen, Mbah Mutamakkin (hidup di masa Sunan Amangkurat IV, 1719-1726 M) dan Mbah Dullah (KH. Abdullah Salam, 1917-2001). Bedanya, Gus Dur ingin bertemu Mbah Dullah di rumahnya, sedangkan Mbah Mutamakkin ingin ditemui Gus Dur di makamnya yang memang tidak pernah sepi peziarah.

Hal itu Gus Mus ungkapkan ketika sedang berbincang santai dengan KH. Husein Muhammad Cirebon. Ketika itu, Gus Mus pribadi meminta Kiai Husein untuk memberikan impian Gus Dur tersebut ke Mbah Dullah.

Kiai Husein pribadi menuju Kajen, Margoyoso, Pati untuk menemui kiai kharismatik yang lahir 1917 (informasi dari KH. Ma’mun Muzayyin, menantu Mbah Dullah) ini. Kiai Husein pribadi memberikan tujuannya menemui Mbah Dullah.

“Wah, Gus Dur tidak akan bertemu dengan Mbah Mutamakkin, ia sedang keluar,” tutur Mbah Dullah kepada Kiai Husein.

Kiai Husein sendiri sudah paham apa yang dimaksud Mbah Mutamakkin sedang keluar menyerupai yang diungkapkan oleh Mbah Dullah. Orang-orang sholeh memang kerap memiliki cara tersendiri dalam berkomunikasi meskipun secara jasad sudah meninggal. Hal ini tentu di luar batas nalar insan pada umumnya, lantaran ulama memiliki keistimewaan yang disebut karomah.

Informasi dari Mbah Dullah tersebut disimpan oleh Kiai Husein dan akan dikabarkan ketika dirinya bertemu pribadi dengan Gus Dur. Kiai Husein tidak mau orang lain salah paham ketika dirinya memberikan kabar dari salah seorang kiai sufi dan zahid (bersajaha, zuhud) tersebut.

Atas keinginannya untuk sowan kepada dua orang kiai Kajen tersebut, Gus Dur pun pribadi meluncur ke Kajen dan ternyata pribadi menuju rumah Mbah Dullah. Gus Dur sendiri tidak mampir ke rumah Kiai Husein. Kiai Husein pun tidak sempat mengabari Gus Dur mengenai klarifikasi Mbah Dullah terkait kabar Mbah Mutamakkin.

Gus Dur sowan ke rumah Mbah Dullah Salam


Usai tiba di Kajen, mestinya Gus Dur menemui Mbah Mutamakkin terlebih dahulu sebelum menuju rumah Mbah Dullah. “Lah, jarene (katanya) menemui Mbah Mutamakkin dulu, kok ke sini (rumah Mbah Dullah) dulu?” tanya Shinta Nuriyah yang dikala itu ikut mendampingi Gus Dur.

Gus Dur menjawab singkat, “Mbah Mutamakkin ora ono, lagek metu (Mbah Mutamakkin tidak ada, sedang keluar).”

Bagaimana Gus Dur mengetahui kabar Mbah Mutamakkin sedang keluar? Padahal kabar dari Mbah Dullah tersebut belum disampaikan kepada Gus Dur. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di benak Kiai Husein.

Menurut Kiai Husein, itulah salah satu tanda kewalian Gus Dur. Orang semacam itu acap kali paham hal-hal yang orang pada umumnya tidak mengerti sehingga Gus Dur sering dinilai weruh sak durunge winara (mengetahui sebelum kejadian).

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Keistimewaan sejumlah ulama sebagai pewaris para Nabi dalam kajian tasawuf berfungsi untuk memperkuat keimanan umat Muslim. Lain dengan mukjizat para Nabi yang levelnya lebih tinggi yaitu di antaranya untuk menawarkan kekuasaan Allah swt. melalui utusannya.

Riwayat karomah (keistimewaan) ulama dimaksud banyak menjadi pelajaran yang tertulis di dalam banyak sekali kitab. Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi sehabis wafat, waliyullah masih diberi karomah.

Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada pada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan dalam karyanya Secercah Tinta (2012) mengungkapkan, banyak Nabi-nabi dari Bani Israil dengan mukjizatnya dapat menghidupkan orang mati. Lalu bagaimana umatnya Rasulullah saw.? Umat Rasulullah pun sama.

Jika pada Bani Israil ada Nabi yang dapat menghidupkan orang mati, maka umat Nabi saw. pun dapat menghidupkan orang mati dengan karomahnya, ibarat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, sebagaimana disebutkan dalam manaqibnya. Demikian juga Imam Yahya bin Hasan yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani balasannya disebut bin Yahya. Karomah-karomahnya juga dapat menghidupkan orang mati.

Selain itu, Imam Al-Ghazali termasuk ulama masyhur yang mempunyai banyak riwayat keistimewaan. Konon, Al-Ghazali dikehendaki masuk nirwana alasannya yakni menolong seekor lalat yang kecebur dalam wadah tinta yang digunakannya untuk menulis kitab.

Diceritakan oleh KH. Abdul Moqsith Ghazali (2018), Imam Al-Ghazali pernah berdoa kepada Allah. Dalam doanya,beliau berharap kitab yang ditulisnya, Ihya’ Ulumiddin, lebih populer dibanding kuburannya. Doa tersebut dikabulkan. Saat ini kitab tersebut dikaji di banyak sekali pesantren dan sekolah tinggi tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sebaliknya, kuburan Al-Ghazali tidak banyak yang tahu. Bahkan berdasarkan Kiai Moqsith yang pernah berkunjung ke makam Al-Ghazali, kuburan penulis Kitab Tahafutul Falasifah itu terlihat apa adanya alasannya yakni gres dua tahun belakangan ditemukan. Artinya, selama ratusan tahun yang ramai diziarahi selama ini bukan makam Al-Ghazali.

Salah seorang kiai pesantren yang dikenal mempunyai keistimewaan ibarat di atas ialah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, Gus Dur tak hanya masyhur tulisan-tulisannya, tetapi juga kuburannya yang diziarahi ribuan orang setiap hari. Nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan oleh Gus Dur membuatnya tak hanya diziarahi umat Islam, tetapi juga masyarakat dari banyak sekali kalangan dan agama.

Keluarga Gus Dur sedang menziarahi Makam Gus Dur


Kiai Moqsith yang juga dikenal bersahabat dengan Gus Dur ketika masih hidup menuturkan, dahulu Gus Dur ditawari umur 90 tahun oleh malaikat. “Buat apa sih umur panjang-panjang, yang sedang sajalah 69 tahun. Akhirnya benar, Gus Dur wafat pada usia tersebut,” ungkap Kiai Moqsith ketika mengisi lembaga ilmiah ihwal moderasi Islam di Bogor, Jawa Barat baru-baru ini.

Kisah tersebut muncul ketika Kiai Moqsith juga menjelaskan riwayat salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw., Sa’ad bin Abi Waqash. Saat itu sahabat Sa’ad didatangi malaikat pada umur 42 tahun dan ingin mencabut nyawanya. 

Seketika sahabat Sa’ad protes kepada malaikat, alasannya yakni anak-anaknya yang masih kecil. Akhirnya, sahabat Sa’ad berdoa meminta kepada Allah dan diberikan umur panjang. Dikabulkan oleh Allah, umur 84 tahun sahabat Sa’ad gres meninggal. Kuburan sahabat Sa'ad berada di Kota Guangzhou, Tiongkok (China) dan ramai diziarahi banyak orang dari mancanegara.

Wallahu A’lam

Sumber: Situs PBNU
Gus Dur meninggal sesudah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Baik dalam kondisi dirawat dan sesudah kepergiannya, orang-orang tidak pernah berhenti mengunjungi Gus Dur.

Bahkan, padatnya pentakziah yang tidak terhitung jumlahnya dari banyak sekali tempat di Indonesia turut mengantar mayat putra sulung KH. Wahid Hasyim tersebut ke tempat peristirahatan terakhir di komplek makam keluarga Tebuireng, Jombang. 

Tebuireng ketika itu tumpah ruah penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikan proses dikebumikannya Gus Dur. Pesantren Tebuireng penuh dan sesak. Begitu juga jalanan utama di depan pesantren terlihat insan berbondong-bondong ingin ikut mengantar Gus Dur.

Di luar sana, tidak hanya teman-teman Muslim yang memadati masjid, musholla, dan majelis-majelis untuk mendoakan Gus Dur, tetapi juga teman-teman dari agama Konghucu, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha turut meramaikan rumah ibadah masing-masing untuk mendoakan Gus Dur. Bahkan, mereka memajang foto Gus Dur di altarnya masing-masing.

Kini, pemikiran, gagasasn, tulisan, dan pergerakan sang zahid Gus Dur yang di kerikil nisannya tertulis “Here rest a Humanist” itu tidak pernah kering meneteskan dan mengguyur wangsit bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di Republik ini. Begitu juga makamnya yang sampai kini terus ramai diziarahi.

Ribuan orang mengantar mayat Gus Dur


KH. Husein Muhammad dari Cirebon dalam buku karyanya “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus” (2015) mengungkapkan persamaan kondisi wafatnya Gus Dur dengan kepergian salah seorang penyair sufi masyhur, Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya, Turki.

Kepulangan Rumi ke Rahmatullah dihadiri beribu-ribu orang yang mengagumi dan mencintainya. Saat itu, di antara mereka yang berduka ialah para pemimpin, tokoh-tokoh penganut Yahudi, Kristen berikut sekte-sektenya, segala madzhab-madzhab pemikiran, serta rakyat jelata yang tiba dari pelosok-pelosok dan sudut-sudut bumi yang jauh.

Gambaran singkat dari kepergian dua zahid (manusia dengan maqom zuhud) yang disambut iringan ribuan orang dari banyak sekali penjuru serta didoakan pula dari segala penjuru memperlihatkan sebuah cinta dan kasih sayang. Rasa tersebut mengkristal dari seluruh komponen masyarakat sebagai wujud cinta dari dua zahid kepada semua insan ketika hayat masih dikandung badan.

Kiai Husein menuturkan, Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah merupakan orang yang selama hidupnya diabdikan untuk menyayangi seluruh manusia, tanpa pamrih apapun. Mereka memperlihatkan kebaikan semata-mata demi kebaikan itu sendiri, bukan bermaksud kebaikan tersebut kembali kepada dirinya.

Cara hidup demikian diungkapkan dalam sebuah puisi indah gubahan sufi besar dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan: Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu (tanamlah wujudmu di tanah yang tidak dikenal, alasannya ialah sesuatu yang tumbuh dari benih yang tak ditanam, buahnya tidak sempurna).

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Nabi Sulaiman dikenal sebagai raja besar pada masanya. Putra Nabi Dawud itu mendapat anugerah dari Allah dengan pengetahuan yang berlimpah, di antaranya dapat memahami dan berbicara dengan binatang, termasuk dengan burung.  

Al-Qur’an mengisahkan wacana seekor burung hud-hud yang memperlihatkan laporan kepada Raja Sulaiman wacana seorang penguasa yang menyekutukan Allah swt., ialah Ratu Bilqis (keterangan lengkap dalam surah An-Naml).

Kisah di atas sebagai pembuka dongeng burung lain pada masa Nabi Sulaiman. Dikisahkan dalam kitab Hikaya Shufiyah karangan Muhammad Abu al Yusr Abidin, ada seekor burung yang mempunyai kicauan merdu dan tampilan indah telah dibeli oleh seorang lelaki dengan harga seribu dinar. Setelah dibeli, burung itu pun ditempatkan dalam sebuah sangkar.

Baca Juga : Kisah Pendosa Yang Diampuni Karena Sayang Pada Anaknya

Suatu ketika, datanglah seekor burung lain yang berkicau kencang dan heboh, sementara si burung dalam kandang hanya melamun dan diam serta tidak menanggapi atau membalas kicauan burung lain.

Melihat kejadian itu, lelaki pemilik burung dalam kandang itu jengkel. Ia lalu melaporkannya kepada Nabi Sulaiman. 

“Ok, baiklah, segera bawa ia kesini?” pinta Nabi Sulaiman.



Burung tersebut lalu dihadapkan kepada Raja Sulaiman. 

“Bagi pemilikmu ada hak yang harus engkau penuhi. Dia membelimu dengan harga fantastis. Akan tetapi, kenapa engkau diam diam saja tanpa berkicau?” tanya Raja Sulaiman meminta klarifikasi si burung.

“Wahai Nabi Allah, bahu-membahu saya hanya berteriak alasannya murung dan rindu dengan kawan-kawanku dan meminta untuk membebaskan dari kandang dan penjara. Lantas datanglah burung sejenis denganku dan memerintahkanku semoga bersabar. Dan beliau memahamkan kepadaku satu hal, bahwa meminta paksa keluar hanya akan menambah deritaku. Sementara lelaki itu mengurungku demi suaraku, maka saya pun diam membisu,” terang si burung.

Akhirnya, dengan kebijaksanaannya,  Nabi Sulaiman melepaskan si burung dan mengganti harga beli pemiliknya dengan sepadan.

Kisah di atas memperlihatkan pelajaran akan betapa pentingnya menjaga harmonisasi makhluk hidup. Keberadaan mereka tidak lain kecuali ayat-ayat Tuhan. Mereka mempunyai hak hidup dan berkawan dengan sejenisnya. Tidak diperkenankan, alasannya bahan dan kesenangan langsung melupakan harmonisasi alam. Disadari atau tidak, keserakahan insan telah menimbulkan banyak kepunahan bagi hewan-hewan dan makhluk hidup.

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Syekh Muhammad Nawawi Banten mengutip dongeng Sayyidina Ali ra. ihwal besarnya perhatian Islam terhadap belum dewasa dan dunianya. Syekh Muhammad Nawawi Banten menggarisbawahi arti penting kasih sayang untuk anak-anak.

Sayyidina Ali ra. bercerita bahwa salah seorang pernah mendatangi Rasulullah saw. Orang ini menyatakan legalisasi dosanya di hadapan Rasulullah saw. Kepada Rasulullah saw., ia meminta pembebasan dan penyucian atas dosanya.

“Wahai Rasulullah, saya telah berlumuran dosa. Sucikanlah diriku,” kata orang itu.

“Apa dosa yang kaulakukan?” sahut Rasulullah

Orang ini enggan menyatakan dosa yang dia lakukan.

“Aku aib mengatakannya.” terperinci orang itu

Wajah Rasulullah saw. memerah. Lalu dia mengusir orang tersebut. Rasulullah saw. tidak sudi menerimanya.

“Apakah engkau aib mengabarkan dosamu kepadaku, tetapi tidak aib kepada Allah yang melihatmu? Keluarlah engkau semoga api celaka tidak menimpa kami,” tandas Rasulullah

Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Rasulullah. Ia menangis sedih. Ia merasa frustasi dan sia-sia alasannya yaitu Rasulullah saw. menolaknya.

Saat itu juga, malaikat Jibril as. tiba kepada Nabi Muhammad saw. Ia menegur Rasulullah saw. alasannya yaitu sejatinya orang itu mempunyai amal tertentu yang menjadi keinginan atas penyucian dosanya (kaffarat) sebagaimana dongeng Sayyidina Ali ra.

“Malaikat Jibril kemudian tiba dan menegur, ‘Wahai Muhammad, mengapa Anda menciptakan frustasi orang yang bermaksiat, sementara ia mempunyai amal yang sanggup menghapus dosanya (kaffarat)’. ‘Apa kaffaratnya?’ tanya Rasulullah saw. ‘Ia mempunyai anak kecil. Bila masuk ke dalam rumah pria itu dan menemuinya, ia memberikannya makanan atau sesuatu yang membahagiakannya. Kalau anak itu bahagia, maka itu menjadi kaffarat baginya,’ jawab malaikat Jibril as.,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Qamiut Thughyan, halaman 26).



Cerita ini menegaskan bahwa belum dewasa dan dunianya mendapat prioritas utama dalam Islam, sesuatu yang selama ini tidak mendapat perhatian istimewa dalam aliran Islam. Perhatian yang rendah terhadap belum dewasa dan dunianya ini yang menjadikan banyak masjid dan akomodasi umum lainnya belum ramah anak.

Oleh karenanya, Rasulullah saw. pada sebagian sabdanya menyampaikan bahwa seorang Muslim sanggup meraih derajat penyayang jikalau ia mengasihi banyak orang, bukan hanya dirinya dan orang di lingkungannya saja.

Rasulullah saw. bersabda: “Penyayang itu bukanlah yang mengasihi dirinya dan keluarganya saja. Penyayang itu yaitu mereka yang mengasihi semua umat Islam,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Qamiut Thughyan, halaman 26).

Kata “semua umat Islam” di sini merupakan lafal umum. Dengan demikian, “umat Islam” di sini meliputi anak-anak, bukan hanya mereka yang dewasa. 

Wallahu A‘lam.


Sumber: Situs PBNU
Nabi Muhammad saw. tidak hanya mengajarkan sikap baik kepada Allah swt. saja namun juga mengajarkan akhlak yang indah terhadap sesama. Berperilaku baik kepada sesama pun tidak terbatas kepada orang muslim saja. Banyak hadits yang menyatakan bahwa Baginda Nabi tidak memperlihatkan spesifikasi agama yang dipeluk orang lain dalam ranah urusan-urusan sosial. 

Contohnya yaitu dalam problem bertetangga. Suatu ketika istri Rasul, Sayyidah Aisyah radliyallâhu ‘anhâ meminta petunjuk Nabi.

“Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga. Kepada siapa saya perlu memperlihatkan hadiah? Rasul menjawab, ‘Kepada orang yang pintunya paling erat darimu’.” (HR. Bukhari) 

Memberikan hadiah bukanlah sebuah kewajiban. Namun apabila ada satu barang, dengan dua jumlah tetangga atau lebih, prioritas target pinjaman jatuh pada tetangga yang pintunya paling erat dari rumah si pemberi. 

Rasulullah tidak menyarankan pilihlah agamanya yang paling Islam, tidak. Rasul menyarankan yang paling dekat. Sebab Rasulullah sedang mengajarkan ihwal hak-hak bertetangga. Sedangkan kita tidak sanggup lepas dengan peranan tetangga.

Dalam satu kesempatan, ada sobat yang bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad saw.: “Sesungguhnya Fulanah melaksanakan ibadah malam dengan rutin, ia juga bersedekah, tapi ia menyakiti tetangga-tetangganya dengan mulutnya”. Rasul pun kemudian menjawab: “Ia tak punya kebaikan sama sekali. Dia termasuk andal neraka.”

Rasul ditanya lagi, si Fulanah itu shalat hanya yang wajib-wajib saja. Dia menyedekahkan beberapa potong roti keju, namun beliau tidak pernah menyakiti hati tetangganya. Rasul kemudian menjawab, ‘Dia termasuk andal surga’.” (Lihat: Al-Baihaqi, Syu’abul Îmân, juz 12, halaman 94).

Hadits di atas sanggup memperlihatkan pemahaman kepada kita bahwa pintu nirwana tidak hanya terbuka melalui satu jalan ibadah vertikal saja. Tapi harus dikomparasikan dengan kekerabatan baik secara horisontal. Ibadah malam, berpuasa di siang hari itu sangat baik apabila dibarengi dengan kekerabatan sosial yang bagus, terutama dalam problem bertetangga.

Dalam bertetangga, Rasul juga pernah berpesan kepada Abu Dzar, untuk memperbanyak kuah dikala memasak. Tujuannya, walaupun material masakan sedikit, apabila dipadu kuah yang banyak, tetap sanggup membuatkan kepada tetangga sebelah.



Ada lima pesan penting Rasulullah saw. kepada Abu Hurairah yang perlu kita perhatikan: “Hindarilah segala macam bentuk kasus yang haram, pasti kau akan menjadi orang yang paling beribadah kepada Allah. Relakan atas apa yang Allah bagikan kepadamu, kau akan menjadi orang yang paling kaya. Perbaikilah hubunganmu dengan tetangga, kau akan jadi orang yang beriman. Cintailah insan sebagaimana kau menyayangi diri kau sendiri, kau pasti akan jadi orang muslim sejati. Janganlah kau memperbanyak tertawa, bahwasanya tertawa itu sanggup menjadikan hati mati.” (HR. Ahmad)

Pada hadits yang masyhur, dikatakan: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga.” (HR. Bukhari)

Dua hadits ini memperlihatkan pemahaman kepada kita bahwa ada kekerabatan yang erat antara keimanan seseorang dengan kekerabatan sosial, terutama bertetangga. Oleh alasannya yaitu itu, tidak heran jikalau ada orang rajin ibadah namun kekerabatan bertetangganya sangat buruk, menjadikan beliau masuk neraka sesuai sabda Nabi Muhammad saw. di atas. Na’ûdzu billâh min dzâlik.

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Rasulullah merupakan sumber kebenaran alasannya ia mendapatkan wahyu pribadi dari Allah. Apapun yang dilakukannya yaitu suri contoh yang harus diikuti, kecuali hal-hal tertentu yang memang dikhususkan untuk Rasulullah. Apapun yang diucapkannya yaitu wahyu yang mengandung kesahihan. 

Rasulullah merupakan sumber ilmu. Sehingga bila para sahabatnya menemukan suatu hal yang janggal, maka mereka akan mengadukannya kepada Rasulullah untuk meminta solusi. Tidak hanya soal keagamaan, Mereka juga bertanya perihal hal-hal lainnya. Permasalahan rumah tangga misalnya.  

Dalam buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah (Ahmad Rofi’ Usmani, 2017), dikisahkan bahwa suatu ketika seorang Badui dari Bani Fazarah mendatangi Rasulullah. Ia mengadu perihal istrinya yang gres saja melahirkan seorang bayi yang berkulit hitam. Seorang Badui tersebut tidak terima.  Ia tidak mau mengakui anak itu alasannya kulitnya tidak sama dengan dirinya, yang tidak hitam.

“Anak itu terperinci bukan anakku,” tegasnya.

Rasulullah tidak pribadi meresponsnya. Beliau membisu sejenak. Setelah amarah orang Badui tersebut sudah stabil, Rasulullah gres menjawabnya. Menariknya, Rasulullah tidak pribadi menjawab kalau anak itu yaitu anak si Badui atau tidak. Akan tetapi Rasulullah memberikan perumpamaan kepada si Badui dalam menuntaskan kasus tersebut.

Mula-mula Rasulullah bertanya kepada si Badui “Apakah ia memiliki unta?”. “Punya”, kata si Badui. Rasulullah lalu bertanya perihal warna dari unta si Badui. “Warnanya merah wahai Rasulullah”, sambung si Badui. Lagi-lagi Rasulullah kembali bertanya, “Apakah belum dewasa dari untamu itu ada yang berwana abu-abu?”. Si Badui menjawab bahwa anak dari untanya ada yang berwarna abu-abu sebagaimana yang ditanyakan Rasulullah.

“Dari mana asalnya anaknya yang berwarna abu-abu itu?”, kata Rasulullah kembali mengajukan pertanyaan kepada si Badui.



Si Badui menjawab dengan sekenanya kalau anak untanya yang berwarna abu-abu itu -sementara untanya sendiri berwarna merah- sanggup saja berasal dari asal keturunannya. Dari sini lalu Rasulullah mengumpamakan anak Badui yang hitam itu. Dengan nada yang santun Rasulullah menyampaikan kalau anak Badui yang berkulit hitam itu sanggup saja ‘turunan’ dari nenek moyangnya, sebagaimana untanya tersebut.

“Sahabatku, anakmu pun begitu. Mungkin nenek moyangnya ada yang berkulit hitam,” kata Rasulullah. Setelah mendengar klarifikasi Rasulullah, si Badui risikonya mau mendapatkan anaknya yang kulitnya tidak sama dengan dirinya itu. 

Demikian Rasulullah menjawab dilema dari umatnya. Kalau ketika ini mungkin praktis saja. Tinggal dites DNA-nya. Namun ketika itu ilmu pengetahuan belum berkembang secanggih menyerupai ketika ini. Kaprikornus Rasulullah memakai perumpamaan-perumpamaan yang relevan dan praktis dicerna umatnya. 

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Seorang sahabat mengenang Rasulullah saw. sebagai insan yang terbaik secara khalq dan khuluq.Maksud khalq yakni ciptaan Allah yang bersifat lahiriah dan fisik. Sementara khuluq yakni ciptaan Alllah yang bersifat batiniah. Dengan demikian, Rasulullah yakni seorang yang terbaik, baik secara fisik maupun akhlak.  

Testimoni ihwal keagungan, khususnya adab Rasulullah juga tiba dari Allah pribadi dalam QS. Al-Qalam: 4. Di situ disebutkan bahwa Rasulullah mempunyai adab yang sangat agung (Wa innaka la’ala khuluqin adzim). Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat sifat-sifat suri contoh yang baik. 

Rasulullah menjadi contoh bagi umatnya dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam urusan ibadah, tapi juga urusan-urusan lainnya ibarat berteman, bertetangga, bahkan hingga berumah tangga. Termasuk tetap bersikap baik kepada istri dan tidak menyakitinya, meski apa yang diperbuat istri tidak sesuai dengan apa yang ia ‘kehendaki.’ Rasulullah telah memperlihatkan contoh ihwal hal itu. 

Dalam buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah (Ahmad Rofi’ Usmani, 2017), disebutkan bahwa Rasulullah pernah menolak kuliner istrinya yang tidak sesuai dengan seleranya. Meski demikian, Rasulullah menolaknya dengan cara yang baik dan halus sehingga tidak hingga menciptakan istrinya sakit hati.



Begini ceritanya, pada hari itu Rasulullah mengajak Khalid bin Walid menemui salah satu istrinya, Maimunah bin Harits. Sebagaimana diketahui, Maimunah yakni saudara wanita ibu Khalid, Lubabah al-Sughra binti Harits. Dengan demikian, Khalid yakni keponakan dari Maimunah, istri Rasulullah.

Ketika Rasulullah dan Khalid tiba di bilik Maimunah, istri Rasulullah itu menuju ke dapur dan memasak daging dhabb (sejenis biawak) yang diperoleh dari saudaranya yang tinggal di Nejd, Hafidah binti Harits. Selang beberapa waktu, Maimunah berhasil menuntaskan masakannya. Ia pribadi menghidangkan masakannya itu untuk Rasulullah dan Khalid.

Pada ketika Rasulullah menjulurkan tangannya untuk mengambil hidangan Maimunah itu, seseorang tiba-tiba memperlihatkan gosip bahwa itu yakni daging dhabb. Segera saja Rasulullah pribadi menarik kembali tangannya. Beliau tidak jadi memakan kuliner Maimunah itu.

Khalid yang berada di samping Rasulullah penasaran. Ia lalu bertanya kepada Rasulullah perihal daging dhabb itu. Apakah halal atau haram? Dan mengapa Rasulullah mengurungkan niatnya untuk mengambilnya dan tidak jadi memakannya?

“Daging dhabb tidak haram. Hanya saja daging dhabb ini tidak terdapat di tempat kaumku. Karena itu saya kurang merasa berselera untuk memakannya,” kata Rasulullah dengan nada halus dan santun.

Setelah mendengar klarifikasi itu, Khalid –yang memang doyan dengan dhabb- pribadi memakan kuliner yang dihidangkan Maimunah itu. Ia memakannya dengan begitu lahap. Sementara Rasulullah hanya melihatnya dan tidak melarang Khalid untuk berhenti memakannya.

Demikian cara Rasulullah menolak kuliner istri yang tidak sesuai dengan seleranya. Beliau memakai alasan yang sanggup diterima oleh istrinya. Cara menyampaikannya pun dengan santun dan halus sehingga istrinya tidak marah.

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU
Sosok KH. Abdurrahman Wahid tidak dapat dilepaskan kiprahnya dalam menawarkan spirit kemanusiaan di tanah Papua dari segala bentuk diskriminasi, marjinalisasi, dan krisis di segala bidang. Papua membutuhkan sekaligus mencintai Gus Dur.

Menurut keterangan seorang santri Gus Dur asal Kudus, Nuruddin Hidayat (2018), pada 30 Desember 1999 atau sempurna dua bulan sepuluh hari sehabis dilantik menjadi Presiden keempat RI, Gus Dur berkunjung ke Irian Jaya dengan dua tujuan, yaitu untuk berdialog dengan aneka macam elemen di Papua dan melihat matahari terbit pertama milenium kedua tanggal 1 Januari 2000 pagi.

Pada 30 Desember 1999 dimulai jam 8 malam obrolan dengan aneka macam elemen dilakukan di gedung pertemuan Gubernuran di Jayapura. Meskipun dengan cara perwakilan, tetapi banyak sekali yang tiba sebab penjagaan tidak ketat.

Gus Dur mempersilakan mereka berbicara terlebih dulu, dari yang sangat keras dengan tuntutan merdeka dan tidak mempercayai lagi pemerintah Indonesia sampai yang memuji tapi dengan aneka macam tuntutan.

Selanjutnya Presiden berbicara merespon mereka. Banyak hal ditanggapi, tetapi yang penting ini, "Saya akan mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua," kata Gus Dur. “Alasannya?” lanjut Gus Dur

"Pertama, nama Irian itu jelek," kata Gus Dur. "Kata itu berasal dari bahasa Arab yang artinya telanjang. Dulu dikala orang-orang Arab tiba ke pulau ini menemukan masyarakatnya masih telanjang, sehingga disebut Irian."

Gus Dur kemudian melanjutkan, "Kedua, dalam tradisi orang Jawa jikalau punya anak sakit-sakitan, sang anak akan diganti namanya agar sembuh. Biasanya sih namanya Slamet. Tapi saya kini ganti Irian Jaya menjadi Papua."

Seorang Antropolog bahasa Melanesia mencari asal-usul kata Irian yang diceritakan Gus Dur, tapi tidak pernah menemukannya (kalau tidak ketemu, tidak berarti tidak ada kan?). Ini benar-benar cara Gus Dur memecahkan duduk kasus rumit dan besar menyerupai duduk kasus Papua dengan humor.



Sohibul riwayah, Ahmad Suaedy menduga mengapa Gus Dur memakai alasan bahasa Arab dan tradisi Jawa? Gus Dur mencoba "menenangkan" hati orang-orang Islam dan orang-orang Jawa yang berpotensi melaksanakan protes.

Selain hormat dengan teladan, prinsip, dan keberanian Gus Dur, Manuel Kaisiepo (2017) mempunyai cerita. Menteri Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia kurun Presiden Megawati itu mengisahkan, dikala Kongres Rakyat Papua akan diselenggarakan, maka Gus Dur menyetujui kongres tersebut dilaksanakan.

Ketika kongres itu mau diadakan, semua orang protes. Itu separatis. Tetapi presiden (Gus Dur) menyetujui kongres itu diadakan. Bahkan, Gus Dur juga akan membantu terselenggaranya program kongres tersebut, yaitu dengan menawarkan pemberian pendanaan. Ini langkah Gus Dur yang dianggapnya nyeleneh, lain daripada yang lain.

Saat Gus Dur menemui kelompok separatis tersebut, banyak orang yang protes dan mengira bahwa Gus Dur menyetujui keberadaan mereka.

Gus Dur menegaskan bahwa semua yang ada di Papua ialah saudara-saudara dirinya, saudara sebangsa dan sesama manusia. Hal ini dilakukan Gus Dur tak lain untuk membangun iktikad masyarakat Papua kepada pemerintah.


Sumber: Situs PBNU
Sebagaimana kita dengar, sering termaktub dalam buku-buku sekolah, bahwa Islam masuk di Indonesia melalui jalur perdagangan Gujarat. Bukan cuma itu, tapi taukah Anda, kepulauan Nusantara sudah dikenal semenjak Nabi saw. masih hidup dan para sahabat sudah berdakwah hingga ke Nusantara?

Sabda nabi yang menyampaikan “Ballighu anni walau ayatan,” Sampaikanlah apa yang dari saya walau hanya satu ayat”, membangkitkan semangat para sahabat membuatkan Islam ke banyak sekali daerah. Dalam catatan berikut, terdapat beberapa sahabat Nabi dalam perjalanannya pernah menginjakkan kaki di bumi nusantara.

1.) Pada tahun 625 M, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah tiba dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia. (Sumber keterangan ini sanggup dicek pada: H. Zainal Abidin Ahmad, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya hingga sekarang, 1979; Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, hal. 31; S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

2.) Sekitar tahun 626 M, Sahabat Ja'far bin Abi Thalib berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia. (Sumber: Habib Bahruddin CV), 1929, hal. 33).

Selain itu, terdapat sebuah artefak ditemukan bahwa ketika itu di indonesia tepatnya dipulau Jawa yaitu Kalingga, Jepara. Pada tahun 640-650 M ada sebuah kerajaan yang ratunya adil berjulukan Ratu Sima dan anaknya berjulukan Ratu Jayisima.

Ketika itu ada seorang dari tanah Arab yang diutus pada masa Utsman bin Affan dari Bani Umayyah. Bani Umayyah yaitu kekhalifahan Islam pertama (Muawiyah bin Abu Sufyan) sesudah masa Khulafaur Rasyidin.

Lalu singgah di Kalingga-Jepara, kemudian Ratu Sima dan Putrinya masuk Islam dan memerintah dari tahun 646-650 M, dan Islam belum berkembang ketika itu, kemudian ditandai adanya surat-menyurat atau korespondesi antara Ratu Sima pada masa Bani Umayyah untuk didatangkan guru-guru untuk berdakwah. Surat-surat mereka kini tersimpan di Museum Granada, Spanyol.

3.) Sahabat Ubay bin Ka'ab berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. Sekitar tahun 626 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, hal. 35).

4.) Sahabat Abdullah bin Mas'ud berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar tahun 626 M. (Sumber: G. E. Gerini, Futher India and Indo-Malay archipelago).

5.) Sahabat Abdurrahman bin Mu'adz bin Jabal, dan putra-putranya Mahmud dan Isma'il, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar tahun 625 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, hal. 38).

6.) Sahabat Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah wafat, ia kembali ke Madinah sekitar tahun 623 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, hal. 39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929;  T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968).

Kemudian pada tahun 718 M, Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan putranya Abdul Malik telah menginjakan kaki di Palembang - Sumatra Selatan. Pada waktu itu Palembang dipimpin oleh seorang Raja Sriwijaya yang berjulukan Raja Srindra Varma.

Dakwah Khalifah Umar bin Abdul Aziz menciptakan Raja tertarik kemudian masuk Islam. Terbukti di makamnya tertuliskan kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasuulullah. Lalu ditandai juga ada surat-menyurat (korespondensi) antara Raja Srindra Varma dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang juga untuk meminta didatangkannya para guru untuk berdakwah. Yang kini surat-suratnya di simpan di Museum Oxford, inggris.

7.) Sahabat Salman Al-Farisi, berdakwah ke Perlak, Aceh Timur dan kembali ke Madinah sekitar tahun 626 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, hal. 39).

Ilustrasi saudagar-saudagar Arab


Sejarawan Agus Sunyoto dalam bukunya "Atlas Walisongo" mengatakan, dari berita-berita yang bersumber dari Dinasti Tang, yang menyebutkan bahwa pada tahun 674 M. saudagar-saudagar Tazhi (Arab) sudah berdatangan ke Kalingga, merupakan satu petunjuk bahwa pada awal zaman Islam, saudagar-saudagar muslim dari Arab sudah mulai masuk wilayah Nusantara.

Namun, hingga berabad-abad kemudian sejarah mencatat bahwa agama Islam di Nusantara lebih banyak dianut oleh penduduk abnormal asal Cina, Arab dan Persia. Berdasarkan catatan Marcopolo yang kembali dari Cina lewat maritim teluk Persia menyebutkan bahwa pada kurun ke-13 hanya penduduk abnormal itu yang memeluk Islam di Nusantara. Catatan dari juru tulis Cheng Ho juga menyebutkan hal serupa. Tahun 1433 M. penduduk pribumi Nusantara masih belum memeluk Islam.

Agus Sunyoto mencatat bahwa pada final kurun ke-15 hingga paruh kurun ke-16 ada sekumpulan tokoh penyebar Islam, Wali Songo. Inilah tonggak terpenting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Disebut tonggak alasannya kedatangan saudagar muslim semenjak tahun 674 M tidak serta merta diikuti dengan penyebaran agama Islam kepada penduduk pribumi. Tetapi sesudah Walisongo, Islam berkembang pesat di Nusantara cukup membutuhkan waktu sekitar 50 tahun.

Hal ini alasannya Wali Songo sangat paham dengan kultur sosial yang berlaku di kalangan masyarakat Jawa mengakibatkan dakwah Islam yang mereka sampaikan diterima secara baik. Mereka masuk sanggup lewat wayang, kidung-kidung lokal yang dimodifikasi dengan subtansi Islam. Banyak hal yang pertanda bahwa dakwah yang mereka lakukan sangat fleksibel sehingga tanpa harus kehilangan substansinya, orang merasa tertarik dengan Islam.

Agus Sunyoto menyebutkan ada sepuluh tokoh Wali Songo. Mereka yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Syekh Siti Jenar, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Raden Fatah.

Wallahu A’lam


Sumber: gusdurfile.com
Interaksi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan pihak militer di antaranya terjadi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut. Foto epik Gus Dur salah satunya ketika mengenakan seragam Tentara Nasional Indonesia AL.

Menurut keterangan seorang santri Gus Dur Nuruddin Hidayat (2018), Gus Dur mengenakan Hasta Siempre Comandante dalam peringatan hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia AL ketika Gus Dur menjabat Presiden RI.

Saat itu, seorang perwira dari Korps Marinir Tentara Nasional Indonesia AL dalam sebuah percakapan mengatakan, “Pernah sewaktu KH. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden RI berbicara di depan pasukan Marinir Tentara Nasional Indonesia AL di daerah saya, ia berbicara begini:

"Menyelamlah kalian hingga ke dasar lautan yang terdalam hingga tubuhmu resap oleh kecintaanmu kepada-Nya. Dan jangan palingkan mukamu ke sisi lain jikalau kau belum mengenal apa yang kau perbuat,” tutur Gus Dur.

Dawuh Gus Dur tersebut penting menjadi perhatian bahwa proses persenyawaan insan dengan alam maupun dengan seluruh makhluk ciptaan Allah harus dilakukan. Hal ini juga terkait dengan proses berguru dan memahami ilmu yang terhampar di muka bumi.

Pernyataan Gus Dur itu juga menyoroti tradisi dan proses instan dalam proses berguru dan memahami ilmu. Hal ini tersirat dalam kalimat kedua dari dawuh di atas. Proses penggalian ilmu dan proses berguru harus bersifat dawam atau terus-menerus dan berkelanjutan ketika seseorang belum memahami ilmu tersebut.

Selain wisdom di atas, Gus Dur juga memiliki kisah lucu dengan Tentara Nasional Indonesia AL. Gus Dur yakni pemimpin bangsa yang menggagas lahirnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (dulu Departemen Kelautan dan Perikanan).

Alasan Gus Dur sederhana, dua pertiga wilayah RI yakni laut. Dan dalam sejarah, bangsa Nusantara yakni bangsa maritim. Benteng utama pertahanan maritim Indonesia dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia AL dengan Marinir sebagai pasukan elitnya. 



Dalam buku The Wisdom of Gus Dur: Butir-Butir Kearifan Sang Waskita (2014), suatu ketika dalam suasana santai, Presiden Gus Dur berbincang ringan dengan ajudannya yang lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL). 

Karena dikenal sebagai sosok egaliter, Gus Dur tak sungkan berbincang dengan siapa pun. Alasan itulah yang menciptakan orang-orang dekatnya juga tak segan meski Gus Dur yakni seorang Presiden.

“Gus, salah satu negara di Amerika Latin, yaitu Paraguay nggak punya laut, kok punya Angkatan Laut?” tanya Ajudan.

“Sama ibarat saya, punya Ajudan, tetapi saya bukan ibarat Presiden. Lah, kau manggil saya Gus,” ujar Gus Dur sambil terkekeh dalam hati.

“Siap Pak Presiden!” sontak Ajudan pribadi sadar dan memberi hormat.

“Ndak apa-apa, saya cuma ngetes seberapa besar selera humor seorang tentara,” lontar Gus Dur dengan tawanya yang khas, sedangkan Ajudan hanya dapat menahan tawa alasannya yakni sudah terlanjur hormat.


Sumber: Situs PBNU
Di kalangan pesantren, banyak ditemukan santri ‘berebut’ kuliner atau minuman sisa dari kiainya. Tidak lain, alasan mereka melaksanakan hal itu ialah untuk mencari berkah (ngalap barokah) dari kiainya. Maklum saja, di kalangan pesantren ada sebuah dogma besar lengan berkuasa bahwa apa yang menempel pada kiai sanggup membawa keberkahan. 

Meski demikian, ada saja pihak-pihak yang menilai jika hal itu terlalu berlebihan. Tidak patut. Dan dianggap terlalu mengkultuskan kiai. Benarkan demikian? 

Ternyata pada zaman Rasulullah juga ada seorang sahabat melaksanakan hal yang sama. Ia berdalih, dengan memakan kuliner sisa Rasulullah maka akan mendapat berkah atau barokah. Sahabat tersebut ialah Ummu Sulaim.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Anas, merujuk buku Hubbur Rasul (Taufik Anwar, 2012), disebutkan bahwa Rasulullah masih saudara dari Ummu Sulaim. Beliau ialah bibi sesusuan Ummu Sulaim. Dikisahkan, bahwa Rasulullah tiba ke rumah Ummu Sulaim beberapa kali. Beliau kadang mendapati Ummu Sulaim di rumahnya dan kadang tidak. Bahkan, Rasulullah juga pernah terlelap di rumah Ummu Sulaim. 



Suatu ketika Ummu Sulaim gres tiba dari bepergian ketika Rasulullah sudah tertidur. Pada ketika itu, Ummu Sulaim menemukan sepotong tulang yang masih ada dagingya sedikit-sedikit. Dia tahu bahwa itu ialah sisa kuliner dari Rasulullah. Langsung saja Ummu Sulaim memisahkan sisa-sisa daging yang ada dalam tulang tersebut. Lalu menyimpannya di daerah kesayangannya.

Ketika Ummu Sulaim melaksanakan hal itu, Rasulullah tiba-tiba saja terbangun. Beliau lantas bertanya kepada Ummu Sulaim wacana apa yang sedang dilakukannya itu.

“Ya Rasulullah, saya mengharap berkahnya untuk anak-anakku,” jawab Ummu Sulaim. Ternyata Ummu Sulaim akan memperlihatkan sisa-sisa kuliner Rasulullah itu kepada anak-anaknya dengan keinginan akan mendapat berkahnya.

Mendengar tanggapan Ummu Sulaim menyerupai itu, Rasulullah tidak melarangnya. Bahkan Rasulullah menyampaikan jika Ummu Sulaim akan mendapat keberkahan dari sisa-sisa makanannya itu. 

“Engkau akan mendapat keberkahannya,” kata Rasulullah

Wallahu A’lam


Sumber: Situs PBNU