Showing posts with label Kumpulan Nasihat. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Nasihat. Show all posts
1.) Agama kau sanggup hancur dan lenyap disebabkan oleh 4 hal :

a. Kamu tidak mau bersedekah terhadap sesuatu yang telah kau ketahui.

b. Kamu melaksanakan sesuatu pekerjaan dengan dasar yang tidak kau ketahui.

c. Kamu tidak mau mencar ilmu terhadap sesuatu yang tidak kau ketahui, bahkan kau membiarkan dirimu abadi dalam kebodohan.

d. Kamu menghalangi orang lain untuk mencar ilmu sesuatu yang tidak mereka ketahui.

2.) Dalam mencari ilmu seharusnya :

a. Diusahakan diperoleh dengan metode burung gagak, yaitu kalau mencari mangsa berangkat pagi-pagi benar, demikian pula dikala mencari ilmu.

b. Dengan kesabaran unta. Sabar dalam menanggung beban berat yang dialami dikala mencari ilmu.

c. Dengan kerakusan babi hutan. Kerakusan terhadap ilmu, ulet belajar.

d. Dengan kecemburuan anjing, dalam menjaga ilmu.

3.) Wahai hamba Allah, janganlah kau sia-siakan hidup menurut ilmu tanpa menjaganya dengan pengamalan. Karena hal itu tidak bermanfaat bagimu. Untuk apa kau cendekia kalau tidak kau amalkan. Berilmu itu wajib bagimu dan mengamalkannya pun wajib, tidak sanggup dipisah-pisahkan antara ilmu dan amal, alasannya yakni amal itu butuh ilmu dan amal merupakan suatu kewajiban yang harus kau lakukan. Ibarat sebuah pohon, ilmu yakni batangnya sedang amal yakni buahnya. Hidup ini harus berilmu, dan dari ilmu itu menghasilkan buah, dan buah itulah yang disebut amalan kita.

4.) Ilmu itu dijadikan semoga diamalkan, bukan hanya untuk dipelihara saja. Belajarlah dan beramallah kemudian kenali orang lain. Kalau kau cendekia kemudian rela beramal, maka ilmu itu terucap darimu dikala kau diam. Maka berbicaralah kau dengan verbal yang dihiasi amal. Jangan hingga kau berbicara wacana ilmu tetapi tidak kau sertai dengan amal, bagaikan pohon tidak berbuah. Seorang ulama berkata: “Ilmu siapa tidak bermanfaat, maka tidak bermanfaat pula tutur katanya”. Wahai hamba Allah, orang bersedekah dengan ilmu akan menerima manfaat dengan ilmu tersebut, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

5.) Janganlah kau tiba hanya membawa sepucuk ilmu kemudian merasa cukup. Sesungguhnya ilmu itu harus disertai amal. Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tidak berbuah, dan bersedekah tanpa ilmu bagaikan membangun rumah diatas pondasi yang rapuh, tak akan sanggup tegak. Janganlah kau menjadi penjual amal dengan ilmu, lantaran diantara kau banyak orang yang pintar berpantun disertai ibarat-ibarat dan kebenaran-kebenaran mencakup balaghahnya namun tidak disertai dengan amalan, bahkan tidak punya rasa ikhlas. Seandainya kau mau melatih hati, tentu anggota tubuhmu ikut terlatih, lantaran hati itu sentra organ badan yang ada.

Ilmu itu mirip kulit dan amal bagaikan kerangka. Kulit itu sanggup dipelihara kalau kerangkanya terpelihara, kalau kulitnya rusak, maka rusak pula kerangkanya. Jika amal tidak ada maka ilmu itu lenyap dengan sendirinya. Mana mungkin ilmumu bermanfaat bagimu kalau tidak kau amalkan. Wahai orang berilmu, kalau kau ingin memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat, amalkanlah ilmumu, ajarilah manusia. Hai orang kaya, kalau kau ingin baik di dunia dan akhirat, ringankanlah beban orang-orang fakir.



6.) Perbaikilah persahabatanmu dengan Allah, takutlah kepada-Nya, beramallah dengan hukum-hukum-Nya, tunaikan hak-Nya. Apabila kau bersedekah memakai aturan Allah berarti telah menunaikan amal dengan usahamu, bahkan kau termasuk mendorong orang lain untuk mengamalkan hukum-hukum-Nya. Ilmu yang kau miliki dan amalkan, sehabis kau amalkan akan timbul ilmu lagi bagimu tanpa kau pelajari, ini yakni anugerah Allah lantaran perbuatan baikmu.

7.) Satu kali kecelakaan bagi orang jahil (bodoh, tidak berilmu) yaitu lantaran tidak mau belajar, dan tujuh kali kecelakaan bagi orang beriman lantaran menyia-nyiakan ilmunya. Orang cendekia tetapi tidak beramal, maka lenyaplah berkah ilmunya dan lepaslah tanda baginya. Berilmu kemudian bersedekah kemudian memperbaiki cinta Allah, maka apabila cintamu higienis pasti hal itu semakin mendekatkan kau kepada-Nya dan mengosongkan yang lain. Jika dikehendaki, perbuatan tersebut sanggup memperharum namamu di hadapan makhluk, bahkan semakin menambah pembagianmu.

8.) Wahai hamba Allah, janganlah kau menghina hebat aturan dan ulama, lantaran ucapan mereka menjadi pengobat dan rancangan kalimatnya sebagai buah. Terimalah ulama yang bertakwa, semoga kau memperoleh berkah. Kamu jangan menemani ulama yang tidak bersedekah dengan ilmunya, lantaran apabila kau bergaul dengan mereka tentu peristiwa akan menimpa kamu, mereka malah mencelakakan kamu.

9.) Celaka kamu, hingga kapan kau mempersibuk dirimu dan sibuk mengurusi keluargamu hingga lupa mengabdi kepada Allah Azza wa Jalla. Seorang ulama berkata: “Apabila kau mengajar anakmu, sertakanlah niat dan semoga disibukkan beliau bersama Allah. Ketahuilah, bahwa niat itu sanggup menciptakan baiknya sesuatu dan berharga tinggi. Ajarilah anakmu dengan ilmu tauhid dan akhiri dengan ilmu yang menjurus ibadah kepada Allah Azza wa Jalla”.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku “Wejangan Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”
1.) Orang yang tidak memiliki harta dan membutuhkannya disebut fakir. Dalam menyikapi kebutuhan harta tersebut, terdapat 5 keadaan :

a. Jika diberi harta beliau tidak suka, enggan mengambilnya dan benci karena beliau menjaga dirinya dari kejahatan, ancaman serta gangguan dari harta. Orang fakir golongan ini dinamakan orang ZUHUD, yaitu orang yang memandang harta sama dengan memandang kerikil dan tanah. Ini ialah tingkat tertinggi.

b. Tidak gemar kepada harta dan tidak pula membencinya. Dia zuhud apabila memperoleh harta. Orang ibarat ini ialah orang yang RIDLO.

c. Suka kepada harta daripada tidak ada, tetapi kesukaannya itu tidak hingga kepada rakus, yang selalu kurang dan ingin bertambah. Dia mau mengambil harta jikalau harta itu tidak syubhat dan halal secara mutlak. Orang ibarat ini dinamakan QONA’AH, yaitu mendapatkan dengan bahagia apa yang ada di tangannya sendiri, apa yang telah dimilikinya.

d. Tidak punya harta karena lemah tidak bisa mencarinya, dan seandainya masih bisa tentu akan dicarinya meskipun dengan bersusah payah. Dia akan sibuk mencarinya. Orang ibarat ini meskipun tidak memiliki harta, tetapi tergolong orang RAKUS dan tercela.

e. Harta yang diperlukan itu memang benar-benar sangat diperlukan sebagai kebutuhan pokok, ibarat orang yang dalam keadaan lapar dan tidak punya pakaian. Maka mencari harta dalam keadaan demikian itu, sekalipun sangat ingin bukanlah dinamakan cinta harta, karena yang tidak dimiliki sangatlah dibutuhkan.

2.) Wahai hamba Allah, berhentinya cita-cita terhadap apa yang sudah diberikan kepadamu, dan tidak ada lagi cita-cita untuk menambah dari yang sudah ada ialah sifat qona’ahmu yang terpuji. Ketahuilah, bahwa qona’ah itu ialah mendapatkan dengan rela apa yang telah ada, memohon kepada Allah suplemen yang pantas disertai perjuangan karena mencari keridlaan Allah, mendapatkan dengan sabar akan takdir Allah, bertawakkal kepada-Nya, dan tidak tertarik oleh budi anyir dunia. Yakinlah kau bahwa qona’ah ialah suatu perilaku hidup yang harus dimiliki oleh setiap orang muslim, karena dengan berqona’ah hati menjadi tenang, bahkan menjadi suatu modal yang tak pernah habis, dalam situasi dan kondisi apapun.



3.) Sikap qona’ah ialah suatu perilaku yang dituntut oleh orang sufi, karena dengan perilaku qona’ah mereka sanggup terhindar dari undangan nafsu terhadap dunia dan kemewahannya, dan cita-cita nafsu kepada dunia ini tidak akan pernah puas, bahkan akan membawa insan untuk selalu disibukkan dengan urusan dunia saja, sehingga lupa untuk mempersiapkan kehidupan darul abadi dan lupa kepada Tuhannya. Sifat qona’ah ialah suatu perilaku yang sanggup mendidik insan untuk bersyukur terhadap nikmat Allah, dan dengan bersyukur terhadap nikmat Allah itulah balasannya insan memperbanyak beribadah kepada-Nya.

4.) Wahai hamba Allah, sebenarnya agama menyuruh qona’ah itu ialah qona’ah hati, bukan qona’ah ikhtiar, bukan qona’ah perjuangan dan bukan pula qona’ah bekerja. Oleh karena itu, sobat Rasulullah saw. ialah orang-orang yang kaya, melaksanakan perdagangan ke luar negeri, sedang mereka termasuk orang-orang yang qona’ah. Adapun manfaat qona’ah ialah sangat besar sewaktu harta itu hilang dengan tiba-tiba.

Wahai hamba Allah, maksud qona’ah itu sangat luas. Qona’ah menyuruh insan untuk betul-betul percaya akan adanya kekuasaan yang melebihi kekuasaan manusia. Qona’ah menyuruh sabar mendapatkan ketentuan Allah jikalau ketentuan itu tidak menyenangkan, dan menyuruh bersyukur bila Allah menjamin kenikmatan kepadanya. Dalam hal yang demikian, insan masih tetap disuruh berusaha keras, dengan kekuatan tenaga dan harta benda, dikarenakan selama insan masih hidup masih diwajibkan berusaha mencari rezeki. Kamu bekerja bukan berarti meminta suplemen dari yang telah ada dan tidak merasa cukup terhadap apa yang telah ada di tangan, tetapi kau bekerja alasannya ialah kau masih hidup dimana orang hidup itu wajib bekerja. Inilah maksud qona’ah.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani
1.) Allah memperlihatkan ujian dan cobaan dengan banyak sekali bentuk :

a. Cobaan jasmani dan rohani yang berupa penyakit, kecelakaan, rasa sedih cita dan lain-lain.

b. Cobaan berupa kehilangan harta kekayaan, kebakaran dan lain-lain

c. Cobaan melalui sanak keluarga yang ditimpa penyakit, ajal dan lain-lain.

Pada dasarnya semua ujian dan cobaan yang menimpa itu ialah :

a. Disebabkan kedurhakaan terhadap Allah oleh insan itu sendiri, itu sebagai jawaban untuk menghapus dosa kedurhakaannya itu, biar insan menjadi sadar atas kedurhakaannya.

b. Takdir Allah untuk menguji hamba-Nya dan kelak di alam abadi akan diganti dengan rahmat dan keridlaan-Nya untuk yang sabar dan tawakkal ketika mendapatkan ujian dan cobaan tersebut.

2.) Wahai hamba Allah, bersabarlah kau lantaran dunia seisinya merupakan suatu ujian dan cobaan. Tiada nikmat kecuali disertai sakit, tiada kelapangan kecuali disertai kesempitan.

3.) Terdapat empat macam kesabaran :

a. Menahan diri dari segala perbuatan jahat, dan dari menuruti dorongan hawa nafsu angkara murka. Menghindarkan diri dari segala perbuatan yang mungkin sanggup menjerumuskan diri ke jurang kehidupan dan merugikan nama baiknya. Maka ketika syahwat bergejolak hendak menggoncangkan keyakinan dan keimanan, hanya sabarlah yang sanggup meneguhkan keimanan dengan memaksakan diri supaya berhenti di perbatasan syara’, dan sabar menyerupai inilah yang menyelamatkan keimanan kita.

b. Sabar dalam menjalankan suatu kewajiban, yaitu tidak merasa berat atau merasa bosan dalam menjalankan ibadah. Oleh lantaran itu, suatu ibadah ialah membutuhkan suatu kesabaran.

c. Sabar dalam membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, menjaga nama baik bagi dirinya, keluarganya dan bangsanya. Sabar sepert ini ialah berani untuk membela kebenaran.

d. Sabar terhadap kehidupan dunia, yaitu sabar terhadap budi anyir dunia, tidak terpaut kepada kenikmatan kehidupan dunia, dan tidak mengakibatkan kehidupan dunia sebagai tujuan, melainkan hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal di alam abadi nanti.

4.) Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa sabar ialah tetap tegaknya dorongan agama menghadapi dorongan hawa nafsu. Sabar ialah sifat yang membedakan insan dengan binatang dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang dorongan hawa nafsu ialah tuntutan syahwat dan harapan yang minta dipenuhi. Kaprikornus sabar ialah suatu kekuatan, daya faktual yang mendorong jiwa untuk melaksanakan kewajiban. Demikian pula sabar merupakan kekuatan yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan kejahatan.

5.) Kebanyakan orang menduga bahwa sabar itu berarti merendahkan diri dan menyerahkan kepada keadaan, membiarkan diri hanyut dalam situasi dan kondisi, atau menghentikan perjuangan tanpa berusaha mencari jalan keluar yang baik, tanpa memperbaiki dan memperkuat amal perbuatan. Pengertian tersebut tidaklah tepat, alasannya ialah yang dimaksudkan dengan sabar ialah menghadapi cobaan dan ujian dengan cara yang baik, berusaha mencari jalan keluar dengan cara yang baik pula, dan membiasakan diri melaksanakan amal perbuatan yang shaleh dan perjuangan yang terpuji yang disertai dengan doa kepada Allah sambil mengakibatkan pengalamannya itu suatu dorongan untuk memiliki kemauan yang keras, keimanan, keyakinan yang istiqomah.



6.) Wahai hamba Allah, janganlah kau lari dari ujian dan cobaan, lantaran datangnya ujian dan cobaan yang dibarengi dengan sabar itu sebagai pondasi setiap kebaikan, pondasi kenabian, kerasulan, kewalian, dan kearifan, juga kecintaan kepada Allah itu ada pada ujian dan cobaan. Jika kau tidak sabar atas datangnya ujian dan cobaan yang menimpa kamu, berarti kau tidak punya pondasi. Sesungguhnya kau yang lari dari ujian dan cobaan yang menimpa kamu, berarti kau tidak butuh kewalian, ma’rifat dan bersahabat dengan Allah. Bersabarlah kau sehingga kesabaran itu seiring bersama hatimu, rahasiamu, dan rohmu pada pintu yang lebih bersahabat pada Allah Azza wa Jalla.

7.) Manusia itu tidak lepas dari beban yang diberikan Allah kepadanya. Maka, kau harus mengerti bahwa sabar atas beban, qadha, dan qadar itu jauh lebih baik dibandingkan isi dunia dan alam abadi yang diserahkan kepadamu untuk bertasawuf.

8.) Wahai hamba Allah, perbanyaklah sifat membisu dan sabar dari orang-orang yang menyakitimu. Jika mereka berbuat dosa besar yaitu melaksanakan maksiat kepada Allah, barulah kau dihentikan membisu lantaran hal itu terlarang dan haram bagimu untuk berdiam diri. Disaat itu menasihati ialah termasuk ibadah sedang membiarkannya ialah suatu kemaksiatan. Apabila kau bisa menegakkan amar ma’ruf nahi munkar itu merupakan jalan yang baik yang telah terbuka di hadapanmu, maka masukilah dengan segera.

9.) Wahai hamba Allah, kerjakanlah perintah-Nya dan hentikanlah perbuatan terlarang. Bersabarlah kau dalam mendapatkan ujian dengan memperbanyak amalan sunah sehingga kau disebut orang sabar yang berinfak untuk mencari taufik Allah. Rendahkanlah dirimu di hadapan-Nya. Hentikan maksiat dari jalur lahir dan membencinya melalui jalur batin. Peganglah taufik-Nya, dan bersabarlah kau atas ketentuan-Nya.

10.) “Sabar itu ialah cuilan dari iman, menyerupai kepala merupakan cuilan dari tubuh.” (Al-Hadits). Jika dogma tanpa kesabaran bagaikan badan tidak berkepala, maka kalau tidak sabar terhadap ujian yang menimpa berarti keimanannya mati, menyerupai matinya orang yang hilang kepalanya. Adapun makna sabar ialah tidak mengadu kepada seorangpun ketika menerima ujian dan cobaan, tidak tergantung pada kasualita (hukum alasannya ialah akibat), tidak membenci cobaan dan juga tidak merasa besar hati akan hilangnya cobaan.

11.) Untuk mengetahui hingga dimana kadar cinta kita kepada Allah, maka Allah akan menguji dimana kita tidak akan lepas dari segala ujian yang menimpa kita baik tragedi alam yang bekerjasama dengan diri kita sendiri, maupun yang menimpa pada sekelompok insan atau bangsa. Terhadap semua ujian itu, hanya sabarlah yang memancarkan sinar yang memelihara seorang muslim dari jatuh kepada kebinasaan, memperlihatkan hidayah yang menjaga dari rasa putus asa.  Sebagai orang muslim wajib meneguhkan hatinya dalam menanggung segala ujian dan penderitaan dengan tenang. Demikian juga dalam menunggu hasil pekerjaan, kita hadapi dengan ketabahan dan sabar serta tawakkal.

12.) Apabila seseorang menghadapi cobaan atau penderitaan itu dengan ridlo, tulus dan mencari jalan keluar dengan cara yang sebaik-baiknya, tidak mengeluh, tidak mengadu, apalagi merintih, maka Allah niscaya akan memudahkan baginya urusan hisabnya. Allah akan menyegerakan pahalanya, memberkati kehidupannya sehingga timbangan amalnya tidak diberati dengan kejahatan tetapi diberati dengan ketaatan dan pahala. Jadi, apabila insan itu menghadapi ujian dengan sabar, maka ia termasuk lulus dari ujian itu. Tetapi apabila menghadapi ujian dengan tidak sabar, maka ia tergolong insan yang tidak berhasil, dan frustasi itu bukanlah sifat orang mukmin.

13.) Orang-orang yang menyayangi Allah tentu rela atas ketentuan-Nya, bukan kepada yang lain-Nya. Mereka selalu memohon sumbangan dari-Nya dan mempersempit selain Dia. Pahitnya dan susahnya kefakiran sebagai kemanisan baginya, tanpa mengurangi arti rela kepada-Nya, dan merasa bahagia dan nikmat bila bersama-Nya. Kayanya dalam kefakirannya, nikmatnya dalam kesakitannya, keberaniannya dalam ketakutannya, dan dekatnya dalam jauhnya. Alangkah bahagia bagimu wahai orang-orang yang sabar, orang-orang yang rela, orang-orang yang memadamkan nafsu dan hawanya.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani
1.) Barangsiapa yang tidak bersyukur dengan segala nikmat Allah, maka hal tersebut memperlihatkan telah hilangnya nikmat-nikmat itu. Dan barangsiapa yang bersyukur dengan nikmat itu, maka dia telah mengikatnya dengan tali nikmat tersebut.

2.) Dengarlah wejangan ulama: “Jadilah kau di dunia ini ibarat orang yang membalut lukanya, yaitu sabar atas pahitnya obat, dan penuh harap atas lenyapnya cobaan”. Setiap cobaan dan sakit niscaya bekerjasama dengan makhluk. Juga penglihatan mereka pada sengsara, manfaat, pemberian, dan penolakan. Oleh alasannya yaitu itu, obat dan lenyapnya cobaan itu terletak pada ketiadaan makhluk dari hatimu dan tanggapanmu tatkala ketentuan Allah tiba padamu.

3.) Allah Azza wa Jalla telah memperlihatkan banyak sekali macam nikmat kepada umat insan berupa hidayah dan berupa rezeki. Nikmat Allah yang paling besar yaitu nikmat berupa hidayah, petunjuk kepada kebenaran, nikmat iktikad dan Islam. Dengan hidayah ini insan akan sanggup mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan kepadanya sehingga adanya nikmat yang berupa rezeki akan selalu disyukuri, dipergunakan untuk menolong orang-orang fakir, untuk berjuang di jalan Allah. Sebaliknya jikalau insan menelantarkan nikmat hidayah yang telah diberikan kepadanya, maka nikmat rezeki yang diberikan kepadanya itu bagaikan siksa bagi dirinya dikarenakan dengan adanya rezeki itu bukan menambah taatnya kepada Allah, justru menambah jauh dari Allah.



4.) “Iman itu ada dua bagian, sebagian berisi sabar dan sebagian berisi syukur.” (Al-Hadits). Apabila kau tidak sabar tatkala tertimpa suatu penyakit dan musibah, dan juga tidak bersyukur tatkala memperoleh kenikmatan, berarti kau bukan seorang mukmin sejati. Di antara kebenaran Islam seseorang yaitu terletak dalam kepasrahan jiwanya.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani
1.) Orang zuhud itu punya 3 sifat, yaitu :

a. Sedikit sekali menggemari dunia, sederhana dalam menggunakan segala miliknya, mendapatkan apa yang ada, serta tidak merisaukan sesuatu yang sudah tidak ada, tetapi ulet bekerja dikarenakan mencari rezeki ialah suatu kewajiban.

b. Pada pandangannya kebanggaan dan celaan orang sama saja. Ia tidak bergembira saat menerima kebanggaan dan tidak susah hati saat menerima celaan.

c. Mendahulukan ridha Allah daripada ridha manusia, merasa damai jiwanya hanyalah bersama Allah Azza wa Jalla, dan berbahagia sebab sanggup mengerjakan syariat-Nya.

2.) Orang zuhud, di dalam menyikapi 7 macam kebutuhan insan ialah :

a. Makanan
Orang zuhud makan hanya sekedar menahan lapar dan menambah kekuatan tubuhnya semoga sanggup melaksanakan ibadah kepada Allah, dan makan tidak hingga berlebih-lebihan.

b. Pakaian
Orang zuhud menggunakan pakaian hanya untuk menutupi tubuhnya, untuk menahan diri dari panas dan dingin, bukan untuk berhias, bukan untuk bermewah-mewahan, serta menggunakan pakaian yang sederhana, bukan pakaian yang mahal.

c. Tempat tinggal
Orang zuhud itu menentukan tempat tinggal di tempat yang gampang melaksanakan ibadah kepada Allah, membangun rumah sederhana, tidak bermewah-mewahan, dan yang diutamakan ialah kerajinan dan kebersihan.

d. Perabot rumah tangga
Orang zuhud, perabot rumahnya ialah sekedar yang diharapkan untuk keperluan setiap hari, tidak berlebih-lebihan, apalagi untuk perhiasan.

e. Istri
Orang zuhud menikah dengan tujuan kebaikan, semoga hidup tenang, sanggup membuatkan keturunan, untuk memelihara kehormatan semoga tidak terjatuh ke dalam kebinasaan, dan untuk beribadah kepada Allah dikarenakan memberi nafkah istri termasuk ibadah.

f. Harta kekayaan
Orang zuhud itu selalu berusaha mencari rezeki, dan sehabis memperolehnya dipergunakan sesuai dengan syariat-Nya, yaitu untuk membuatkan agama, untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, untuk membangun tempat-tempat ibadah, dan lain-lain. Orang zuhud tidak akan menumpuk atau menimbun harta kekayaan sebab hatinya tidak lekat dengan harta kekayaan yang dimilikinya dan tidak untuk bermewah-mewahan.

g. Penghormatan
Orang zuhud tidak bergembira jikalau dipuji dan tidak susah jikalau dicela, sebab semua ibadah dan gerak-geriknya ialah hanya untuk Allah semata.

3.) Wahai manusia, sekalipun kau bersujud kepada Allah selama seribu tahun diatas bara api, kalau hatimu kau hadapkan ke selain Dia, maka perbuatanmu itu sama sekali tidak bermanfaat bagi dirimu. Hal itu tiada besar lengan berkuasa untuk Dia. Kamu tidak akan memperoleh laba sebelum kau lenyapkan segala kebendaan dari hatimu. Mana berkhasiat mengatakan zuhud yang disertai hati yang tertuju pada keduniaan.

4.) Wahai hamba Allah, jikalau kau memandang sesuatu dengan mata hatimu hingga batas keburukan dunia, tentu kau bisa mengeluarkan dunia dari hatimu. Tetapi jikalau kau memandang dunia dengan mata kepalamu tentu kau terpedaya dan tertipu oleh warna-warni yang menghias keburukannya sehingga kau pandang indah dan menyenangkan, dan sudah pasti kau tidak akan pernah bisa mengusir rasa cinta dunia dari hati dan berzuhud di dunia, padahal dunia itu membunuhmu ibarat para pembunuh. Apabila kau merasa tentram, pasti kau akan bisa melihat keburukan dunia dan bahkan kau bisa menerapkan hidup zuhud di dunia. Ketentramannya ialah kau bisa mendapatkan bisikan hati, berkait dengan batin dalam menahan dunia, bersifat qona’ah dan menolak dunia.



5.) Wahai hamba Allah, selagi dalam hatimu menyimpan rasa cinta dunia, kau tidak sanggup melihat sesuatupun keadaan orang-orang shaleh. Selagi kau berdusta dan berserikat kepada manusia, mustahil mata hatimu terbuka. Maka berzuhudlah kamu, jadilah mujtahid, sibukkanlah dirimu dengan disiplin tobat dan kembalikanlah segala kebutuhanmu kepada-Nya. Sesungguhnya Allah itu lebih utama daripada yang lain. Jagalah hukum-hukum syara’-Nya, biasakan bertakwa kepada-Nya.

6.) Tiada sesuatu yang sanggup menyambung antara hamba dengan Allah kecuali disertai ilmu zuhud di dunia dan berpaling dengan hati memutar jiwa dan nafsu. Orang zuhud itu rela melepaskan dunia dari hati. Maka berzuhudlah kau di dunia semoga nafsumu terkendali, dan keburukan lenyap berkembang menjadi kebaikan.

7.) Diantara insan ada yang menguasai harta dunia tetapi ia tidak mencintainya, ia mempunyai tetapi tidak dikuasai, menyukai tetapi ia tidak mencintai, dunia melayani tetapi ia tidak bisa dihancurkannya. Bagus sekali hatinya kepada Allah, dunia tidak pernah bisa mencelakakannya, ia rela mengeluarkan dunia tetapi dunia tak bisa mengeluarkan dirinya. Demikianlah citra hamba Allah yang shaleh.

8.) Jadikanlah ketenangan dihadapan-Nya melalui zuhud, memutus relasi syahwat, wanita, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Maka kau akan diberi penglihatan dengan mata yang mulia dan memperoleh belahan tanpa terputus. Tetapi selama kau masih merasa perlu terhadap sesuatu di sekelilingmu, kau tetap tidak akan kedatangan sesuatu dari yang tidak terduga. Seorang ulama berkata: “Selama mengharapkan sesuatu di hadapanmu, tentu sesuatu yang mistik tidak akan tiba kepadamu”.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani
1.) “Barangsiapa dibukakan pintu kebajikan baginya, maka hendaklah dia mencapai peluang itu, sebab tidak diketahui kapan pintu itu ditutup baginya”. (Al-Hadits)

Wahai manusia, capailah dan peliharalah pintu hidup selagi masih terbuka. Mungkin dalam waktu akrab ini akan tertutup kembali dengan tercabutnya rohmu dari kerongkonganmu. Peliharalah tingkah lakumu yang baik selagi kau masih bisa melakukannya. Peliharalah pintu tobat, masuklah ke lorong-lorongnya selagi masih terbuka untukmu. Peliharalah pintu dosa sebab pintu itu selalu terbuka untukmu, dan peliharalah pintu ke temanmu yang baik, bahwasanya pintu itu masih terbuka untukmu.

Wahai hamba Allah, bangunlah dirimu dari sesuatu yang menggoncangkanmu, sucikanlah dirimu dari sesuatu yang mengotorimu, perbaikilah dirimu dari sesuatu yang merusakmu, jernihkan dirimu dari keruh kotormu, tahanlah dirimu dari kesenangan dunia yang kau ambil, kembalilah kepada Tuhanmu yang kau jadikan daerah pelarianmu.

Wahai hamba Allah, disana tiada apapun kecuali Zat Pencipta Azza wa Jalla. Maka, apabila kau telah merasa berada bersama Allah, berarti kau hamba-Nya. Dan kalau kau merasa berada bersama makhluk, maka berarti kau menjadi budak mereka. Bila kau mengetahui bahwa pemisahan terhadap Allah Yang Haq itu menjadi pemisah setiap perwujudan yang kau yakini, maka bahwasanya segala sesuatu dari makhluk itu ialah sebagai penghalang antara dirimu dengan Allah.

2.) Kebaikan itu tergantung dari pemberian-Nya, sedang keburukan terletak sebab mengingkari-Nya. Jika kau berusaha sebab Allah semata, maka kau akan akrab dengan Allah, dan Allah melihatmu sebagai jawaban untukmu.

Wahai hamba Allah, janganlah kau mencari ganti dalam bentuk hitungan. Carilah pemberi nikmat kepadamu, janganlah mencari nikmat. Jika kau mencari nikmat, maka nikmat itu tidak akan kau temukan selamanya, sebaliknya kalau kau mencari Pemberi nikmat, maka itulah suatu kenikmatan.

3.) Wahai hamba Allah, selamatkanlah jiwamu dari dunia dan akhirat, dan bebaskanlah jiwamu dari selain Allah, pasti rahmat akan berdatangan dari banyak sekali arah. Peliharalah Tuhanmu dari banyak sekali penjuru jiwamu, tentu kau akan selamat dari budi kancil iblis dan hawa nafsu. Sehingga: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka”. (QS. Al-Hijr: 42)

4.) Wahai hamba Allah, dimanakah kau letakkan rasa penghambaanmu kepada Allah Yang Haq?. Bawalah kemari rupa penghambaanmu yang benar, dan genggamlah rasa kecukupan dalam segala urusanmu. Kamu ialah hamba yang lari dari Tuhanmu. Kembalilah kepada-Nya, serahkanlah jiwa ragamu untuk Dia dan rendahkanlah dirimu di bawah perintah-Nya tanpa tawaran, terhadap larangan-Nya dengan menghentikan, terhadap ketentuan-Nya dengan sabar dan menerima. Bila hal ini telah kau sempurnakan dalam jiwamu, maka sempurnalah penghambaanmu, kemudian datanglah kecukupan untukmu dari Allah Azza wa Jalla.

5.) Wahai hamba Allah, kau diciptakan oleh Allah bukan untuk menciptakan kekacauan, bukan sekedar untuk permainan, bukan sekedar untuk makan, minum, tidur dan kawin. Ingatlah bahwa hatimu melangkah menuju Allah satu langkah, maka cinta-Nya melangkah menuju kau beberapa langkah.

6.) Wahai hamba Allah, apabila kau bersedia melayani-Nya kamupun akan dilayani-Nya, kalau kau berhenti Dia pun akan berhenti. Maka layanilah Allah Yang Haq, janganlah kau sibuk mengurusi harta benda dunia kemudian meninggalkan-Nya, atau sebab kau melayani pemimpin yang tidak bisa membawa mudharat dan manfaat. Mana bisa mereka memberimu?. Apakah mereka itu bisa memberimu apa yang tidak dibagi untukmu, atau memilih pembagian sesuatu yang tidak dibagikan oleh Allah kepada kamu?. Tak ada yang perlu diistimewakan untuk mereka. Apabila kau beropini bahwa dukungan mereka itu mendahului ketentuan-Nya, maka kafirlah kamu. Bukankah telah diketahui bahwa mereka itu bukan pemberi, bukan penolak, bukan pencelaka, bukan yang Qadim, dan bukan Yang Akhir kecuali hanya Allah Yang Haq. Jika kau berkata bahwa kau mengetahui hal itu, maka Bagaimana kau tahu sedangkan kau mendahulukan selain Dia?.

7.) Wahai manusia, barangsiapa yang meninggalkan pintu Allah Yang Haq, tentu menuju pintu manusia. Barangsiapa yang menyia-nyiakan jalan Allah dan naungan-Nya, tentu tunduk di jalan makhluk dan berlindung di sana. Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikannya, tentu pintu-pintu yang menuju makhluk ditutup bagi dirinya, dukungan mereka diputus untuknya, sehingga semua yang dari makhluk itu tidak mempunyai kegunaan bagi dirinya.

8.) Wahai hamba Allah, janganlah kau berputus asa dari rahmat Allah dan janganlah kau selalu mengerjakan perbuatan maksiat yang menjadikan dosa besar, sucikan busana agamamu dari najis dengan air tobat, tetap bersama-Nya dan nrimo disamping-Nya. Ketahuilah bahwa semua yang terjadi pada dirimu (yang bukan penyakit yang menimpa dirimu), semua itu datangnya dari Allah. Karena itu kembalilah kepada Allah dengan sepenuh hati.

9.) Wahai hamba Allah, peliharalah nrimo dalam beramal, luruskan pandanganmu dan perhatikan amalmu. Beramallah kau sebab Allah, jangan sebab nikmat-Nya. Jadilah kau menyerupai orang yang mencari ridha-Nya semata. Carilah keridhaan-Nya hingga Dia memberimu. Apabila Allah memberimu berarti kenikmatan dunia dan alam abadi kau peroleh. Di dunia bisa akrab dengan Allah, di alam abadi bisa melihat Allah dan memperoleh jawaban sebagaimana yang Dia janjikan. Di dunia kau sanggup mengenal-Nya melalui mata hatimu, sehingga jiwamu tenang, aman, sejuk, tidak susah, dan merasa cukup terhadap ketentuan-Nya yang ada padamu. Dan di alam abadi kau sanggup melihat melalui mata kepalamu.

10.) Wahai hamba Allah, yang dinamakan takut kepada Allah itu bukanlah takut kepada siksa-siksa-Nya, tetapi takut kepada Allah ialah merasa bahwa Allah selalu mengawasi segala perbuatan baik dan buruk, sehingga seseorang tidak berani dan takut melaksanakan kemaksiatan kemudian tunduk dan patuh terhadap syariat-Nya.



11.) Wahai hamba Allah, makanlah dan minumlah dengan masakan dan minuman yang diridhai Allah, dan perangilah hawa nafsumu jangan hingga kau hanyut terbawa oleh kemauan hawa nafsu. Ketahuilah bahwa di langit dan bumi tiada penguasa selain Allah Azza wa Jalla. Tiada Tuhan dan tiada penenang kecuali hanya Dia, tiada penentu atau pemutus kecuali Dia, tiada penguasa atau penakluk kecuali hanya Dia, dan tiada yang perkasa selain Dia. Maka ketahuilah melalui mata hatimu dan batinmu bahwa Allah Azza wa Jalla ialah satu-satunya daerah harapanmu, bukan kepada yang lain.

12.) Sesungguhnya cobaan itu banyak tetapi penangkalnya hanya satu demikian juga penyakit itu banyak tetapi penyembuhnya cuma satu, yaitu Allah Ta’ala.

Wahai orang yang terkena penyakit jiwa, serahkanlah jiwamu kepada dokter, dan kau tak perlu berduka cita atas sesuatu yang dikehendaki padamu sebab Allah lebih penyantun kepadamu daripada dirimu sendiri. Jagalah dirimu di hadapan-Nya dan janganlah kau membelakangi-Nya, sebab kau sanggup melihat segala kebaikan dunia dan alam abadi hanya dari Dia semata.

13.) Cinta kepada Allah berdasarkan Imam Al-Ghazali ialah sebagai hasil dari ma’rifatullah. Oleh sebab itu, dia berkata: “Ketahuilah bahwa tajalli (memperoleh kenyataan) keagungan Allah membawa insan khauf (takut) kepada Allah, tajalli kecantikan dan keindahan Allah membawa insan kepada rindu, tajalli sifat Allah membawa insan kepada cinta, tajalli Zat Allah membawa insan kepada tauhid”.

14.) Sesungguhnya kau diciptakan hanyalah untuk menyembah Dia, sebab itu jangan mempermainkan. Jalinlah relasi dengan-Nya, jangan mempersibuk diri dengan yang lain, jangan mencintai-Nya merangkap makhluk. Jika kau menyayangi yang lain, cintailah atas dasar kasih sayang dan kelembutan. Kalau itu yang kau kehendaki, tidaklah mengapa. Tetapi kalau cintamu ke yang lain berdasar lubuk hati, janganlah kau lakukan sebab termasuk cinta batin, dan yang demikian itu tidak diperbolehkan.

15.) Apabila pertolongan itu telah tepat atasmu, maka datanglah dunia dan alam abadi menjadi pelayanmu tanpa paksa. Lintasilah pintu Tuhanmu dan tetaplah di sana. Jika kau tetap membisu tak bergeming dari pintu itu, maka Allah Yang Haq berafiliasi dengan jiwamu sehingga kau sanggup melihat lintasan-lintasan hawa nafsu, lintasan hati, dan lintasan iblis. Dikatakan untukmu : “Inilah lintasan yang benar, dan inilah lintasan yang batil”.

Ketahuilah, dari setiap bentuk ini menyimpan tanda yang bisa kau kenali. Bila kau telah hingga pada maqam ini, pasti lintasan Al-Haq tiba padamu, mendidikmu, menetapkan, mendudukkan, menggerakkan, menempatkan, memerintah, dan menegakkan kamu.

Wahai hamba Allah, janganlah kau mencari penambah dan pengurang, sebab setiap kepastian itu telah mencakup setiap individu. Tidak seorangpun diantara kau kecuali baginya punya manuskrip dan biografi penghitung.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani
1.) Wahai hamba Allah, apabila kau lebih mengutamakan makhluk daripada Penciptanya, maka sebetulnya kau itu dalam kesakitan, dalam kebinasaan, dan hingga kapan perilakumu itu kau tunjukkan di hadapan Allah Al-Haq, dan hingga kapan lagi kau sadar dari keingkaranmu itu?

Sampai kapan lagi kau menghidupkan dunia dan mematikan alam abadi ? Sesungguhnya setiap insan itu cuma berhati satu, maka tidak akan bisa mengasihi dunia dan alam abadi dalam satu waktu. Kalau hatimu cinta dunia kau akan melupakan alam abadi dan kalau kau mengasihi akhirat, maka dunia akan kau lupakan dan tidak kau cintai. Oleh alasannya itu, cintailah kehidupan yang lebih kekal diantara keduanya. Ingat, kehidupan dunia ini sangat terbatas, singkat sekali bagimu, kemudian dunia akan kau tinggalkan begitu saja.

Hati insan itu satu, mustahil bisa berdzikir kepada Pencipta dan yang diciptakan dalam satu waktu. Kalau hatimu telah kau isi dengan dzikir kepada Allah, maka yang selain-Nya akan kau lupakan, tetapi kalau kau berdzikir (ingat) selain Allah, maka Allah akan kau lupakan. Kalau kau mengaku mengasihi dunia dan akhirat, dan kalau kau mengaku ingat Pencipta dan yang diciptakan, semua itu yaitu legalisasi dusta semata.

2.) Wahai hamba Allah, bila kau cinta Allah atau mengasihi yang lain, janganlah kau satukan dalam satu hati dikarenakan kau mustahil akan mampu, dikarenakan kalau kau telah mengasihi dunia berarti kau tidak cinta kepada Allah Azza wa Jalla.

“Allah sekali-kali tidak menyebabkan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (QS. Al-Ahzab: 4)

Dunia dan akhIrat tidak sanggup dipadukan. Pencipta dan yang diciptakan tidak sanggup disatukan. Tinggalkanlah sesuatu yang fana (yang sanggup sirna) sehingga memperoleh sesuatu yang tidak fana (kekal). Relakan dirimu dan hartamu hingga kau memperoleh surga-Nya.

3.) Ketahuilah bahwa makhluk dan Pencipta tidak bisa disatukan, dunia dan alam abadi dalam hati tidak sanggup dipadukan, tidak bisa dilukiskan, tidak bisa dibenarkan. Tetapi keberadaan makhluk sanggup dilukiskan dalam lahir jiwamu, dan Pencipta terlukis melalui batin. Dunia di tangan dan alam abadi dalam hatimu, dimana kalau sudah di hati janganlah kau satukan.

4.) Lihatlah dirimu dan pilihlah untuk-Nya. Jika kau menghendaki dunia, keluarkan alam abadi dari hati, dan kalau menghendaki alam abadi maka bebaskanlah dunia dari hati. Jika kau ingin bersahabat dengan Allah, maka bebaskanlah hatimu dari dunia dan akhirat. Selama dalam hatimu terdapat sesuatu selain Allah, maka kau tidak akan bisa melihat kedatangan-Nya, dan tidak bisa menyatakan berani dan berdiam untuk-Nya. Selama dalam hatimu menyenangi dunia, maka tidak akan sanggup melihat akhirat, dan selama dalam hatinya masih terdapat akhirat, maka tidak sanggup menyaksikan Tuhan. Janganlah kau mendekati pintu-Nya kecuali dengan hati yang murni, biar usahamu tidak sia-sia.

5.) “Sesungguhnya hati itu berkarat, dan sesungguhnya penjernihannya yaitu dengan membaca Al-Qur’an, ingat mati, dan mendatangi majlis dzikir.” (Al-Hadits)

Hati itu berkarat, kotor, dan gelap dimana untuk menjernihkan hati yaitu dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengingat mati, dan mendatangi majlis dzikir, yaitu suatu pertemuan untuk mengingat Allah dan dzikir kepada-Nya. Jika tidak mau memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengingat mati, dan mendatangi majlis dzikir, maka hati menjadi gelap, gelap lantaran jauhnya dari cahaya kebenaran, lantaran cintanya kepada dunia dan kehidupannya yang tidak disertai sifat wara’. Siapa saja yang hatinya ditempati rasa cinta dunia, maka lenyaplah sifat wara’nya, yang tinggal hanyalah adonan halal dan haram. Ini berakibat lenyapnya rasa malu kepada Tuhan dan enggan mendekatkan diri kepada-Nya.

Wahai hamba Allah, terimalah apa yang disampaikan Nabimu, lenyapkan karat di hatimu dengan obatnya, sebagaimana telah dijelaskan kepadamu. Seandainya kau sakit dan dokter mengatakan obat-obatnya, tentu tidak akan tercapai ketentraman hidup sebelum kau melaksanakan perintah dokter itu.

6.) Wahai orang yang mensucikan diri, terapkanlah kesucianmu dalam batin, dalam hati, kemudian dalam jiwa dan dalam tubuhmu. Petunjuk zuhud itu tiba dari sana, bukan dari lahir ke batin. Apabila batin telah jernih, maka kejernihan itu berputar menuju hati, jiwa, anggota tubuh, makanan, minuman, dan ke seluruh tingkah laku.

7.) Allah pencipta penyakit dan obat. Durhaka itu penyakit dan taat itu sebagai obat, aniaya itu penyakit dan adil itu obatnya, salah itu penyakit dan benar itu obatnya, menentang Allah itu yaitu penyakit dan tobat atas dosa itu yaitu obatnya. Obatmu akan tepat kalau (kecenderungan kepada) makhluk, kau pisahkan dari hatimu, kemudian kau jalin hubungan yang erat dengan Allah.

8.) Kamu tidak akan sanggup mencapai Allah selama kau masih membawa najis, lahirmu tidak sanggup masuk ke dalam kekuasaan-Nya bersama benda-benda najis yang tersimpan dalam batinmu. Suatu amalan tidak akan kau peroleh sebelum terenungkan dalam jiwa yang bersih, dan pada gilirannya memasukkan dirimu dalam kerajaan-Nya.

9.) Wahai hamba Allah, gerakan verbal tanpa dibarengi dengan amalan hati tidak akan bisa mengajakmu hingga kepada Allah Azza wa Jalla. Perjalanan itu hanyalah perjalanan hati, kedekatan itu hanyalah kedekatan hati, amalan itu hanyalah amalan yang berfungsi, menjaga aturan syariat itu melalui anggota tubuhmu dan berendah diri untuk beribadah. Barangsiapa yang menyebabkan lidahnya sebagai tolok ukur, maka ia tidak punya ukuran. Barangsiapa menampakkan amal kepada manusia, maka tiada amal baginya. Usahakan bersedekah dengan sembunyi, jangan kau tampakkan secara terang-terangan kecuali amalan wajib.

10.) Wahai hamba Allah, semua obat terletak dalam penyerahan diri di hadapan Allah, memutus kausalitas (hukum alasannya akibat) dan mengosongkan diri dari tuhan-tuhan selain Allah Yang Haq. Tetapi yang manjur terletak dalam peng-Esa-an Allah berdasarkan hati bukan berdasarkan ucapan. Tauhid terletak dalam hati, zuhud di hati, ma’rifat di hati, takwa di hati, pengetahuan perihal Allah di hati, cinta Allah dalam hati, dan bersahabat dengan Allah juga dalam hati bukan pada lisan. Sekalipun lisanmu mengucapkan atau berdzikir beribu-ribu kali dalam sehari, tetapi kalau dalam hatimu terbang kemana-mana, ingat harta benda dunia, ingat makhluk yang hina, maka ucapanmu itu menyerupai orang yang kesurupan, yang berbicara seenaknya tanpa direnungkan makna yang terkandung di dalamnya.



11.) Wahai hamba Allah, kehendakmu kepada Allah itu tidak benar kecuali semata-mata hanya kau tujukan kepada-Nya. Setiap orang yang hendak menuju Allah tetapi masih dibarengi dengan menuju kepada orang lain, maka sia-sialah semua usahanya itu. Hendak menuju kepada Allah itu harus murni, harus berhati suci dan bebas dari yang selain Allah, dan kalau tidak maka perjuangan itu dinamakan riya, syirik, mempersekutukan Allah dengan benda lain. Amal menyerupai ini yaitu lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, dan siapa yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, maka orang itu termasuk orang yang merugi, rugi di dunia lantaran hatinya tidak tenang, hatinya selalu galau lantaran keinginannya tidak pernah sepenuhnya terpenuhi, dan rugi di alam abadi lantaran di sana nanti akan memperoleh imbalan siksa yang menghinakan.

12.) Wahai hamba Allah, beramallah kau dengan anggota tubuhmu dan hadapkanlah hatimu kepada-Nya semata. Amalanmu yaitu untuk dirimu sendiri dan untuk persiapanmu menghadapi pertemuanmu dengan Tuhanmu nanti, maka dalam bersedekah hadapkan hatimu kepada-Nya, bukan kepada yang selain Dia. Ilmu lahir menjadi penerang lahir sedang ilmu batin menjadi penerang batin. Ilmu sebagai penerang antara kau dengan Tuhanmu. Kalau kau bersedekah berdasarkan ilmu yang kau miliki tentu mendekatkan jalanmu kepada Allah Al-Haq, memperluas pintu antara kau dan Tuhanmu.

13.) Wahai hamba Allah, cintamu terhadap sesuatu selain Allah itu yaitu cinta yang semu, cinta yang gampang lenyap, dikarenakan cinta sejati yaitu cintanya seorang hamba kepada Tuhannya. Kalau kau mengasihi makhluk, maka cintamu itu sangat terbatas, gampang lenyap, bahkan gampang sekali bermetamorfosis suatu kebencian, menjadi musuh bagimu. Tetapi cintamu kepada Allah yaitu cinta hakiki, perasaan cinta yang kekal abadi, yang membawa tenangnya hatimu bersama-Nya dalam setiap ketika dan waktu, bahkan disaat-saat selesai hayatmu pun perasaan cinta dan perasaan damai itu akan selalu menyelimutimu. Tetapi abnormal sekali lantaran kau lebih suka melupakan Allah daripada melupakan ciptaan-Nya.

Wahai hamba Allah, cinta orang-orang yang sebetulnya kepada Allah itu yaitu cinta yang tak tergoyahkan oleh apapun, lantaran cintanya keluar dari mata hati. Cinta mereka bukan sekedar keyakinan bahkan disertai yakin. Kalau mata terbuka dari tabir epilog mata hati, maka merekapun bisa menembus apa yang ada dalam mistik maupun melihat sesuatu yang mustahil bisa disingkap oleh orang lain.

14.) Wahai hamba Allah, kalau tobatmu murni, imanmu pun suci. Menurut andal sunnah, keyakinan itu bertambah dan berkurang, bertambah lantaran ketaatan dan berkurang lantaran melaksanakan maksiat. Demikianlah hak dan kewajiban insan yang harus diperhatikan. Tetapi untuk orang-orang pilihan, keyakinan mereka selalu bertambah lantaran lenyapnya makhluk dari mereka. Bertambah lantaran ketentraman mereka bersama Allah dan berkurang lantaran ketentraman mereka bersama selain Allah.

15.) Sesungguhnya kebahagiaan hati tidak bisa diperoleh kecuali sesudah ada pembatas nafsu. Apabila kau sanggup mencegah, tentu pintu kebahagiaan terbuka untukmu. Sehingga bila hati berkarya, kebahagiaan segera tiba dari Allah, rahmat tiba pada jiwa.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani
1.) Wahai hamba Allah, hendaklah kau aib kepada Allah dengan aib yang sebenar-benarnya. Janganlah kau lalaikan waktumu dengan sia-sia. Kamu disibukkan dengan urusan mengumpulkan harta, berangan-angan terhadap yang tidak akan kau temukan dan membangun sesuatu yang tidak kau tempati, maka yang demikian itu menjadi penghalang dirimu dari maqam Tuhanmu.

Duduklah berdiam diri sambil mengingat Allah dalam hati, itu ialah perbuatan orang-orang arif, perbuatan orang-orang siddiq, yang daerah tinggalnya dalam surga. Maka jadilah kau insan yang ridha atas ketentuan-Nya dan mendekatkan hati kepada-Nya, bermunajat dan menyingkap tabir penghalang antara dirimu dengan Allah. Jika demikian, jadilah persahabatan hati ini dalam kesunyiannya bersama Dia Yang Haq.

2.) Wahai hamba Allah, orang mukmin itu selalu bederma untuk dunia dan akhiratnya. Beramal untuk dunia menyampaikannya berdasarkan kehendak yang diperlukan di sana. Terimalah dunia sebagai bekal penumpang, jangan hingga menariknya sesuka hatimu. Orang jahil itu setiap kehendaknya tertuju pada dunia, sedangkan orang berakal setiap geraknya untuk alam abadi kemudian menuju Tuhan. Apabila kau ambil kesenangan dunia hingga membumbung mencapai taraf nafsu syahwat, maka perhatikan sebentar : Siapakah Penguasa yang bisa tabrak domba segala sesuatu ? Karena hal itu tidak menguntungkan kamu, maka lawanlah harapan nafsumu untuk menguasai dunia dan didiklah nafsumu disisi Allah Yang Haq.

3.) Orang mukmin hidup di dunia ini mencari bekal untuk akhirat, tetapi orang kafir hanya bersenang-senang di dalamnya. Orang mukmin selalu berbekal, lantaran mereka berada pada jalan qona’ah, mereka selalu merasa cukup terhadap apa yang telah ada di tangannya, dan selalu mempermudah lepasnya harta, lantaran lebih banyak dicurahkan untuk kepentingan akhirat, untuk bekal menghadapi hari simpulan zaman nanti. Apapun usahanya di dunia ini dipersiapkan untuk dirinya, dijadikan bekal untuk dirinya sesuai dengan kemampuannya. Semua kekayaannya dipersiapkan untuk kehidupan akhirat.

4.) Wahai hamba Allah, apabila kau memelihara iman, menyuburkan batangnya, tentu diperkaya Allah untuk dirimu sendiri dari segala makhluk. Allah menghias jiwa, hati, dan batinmu kemudian menempatkan kau pada pintu-Nya, memperkaya fikirmu dengan ingat, dekat, dan tunduk bersama-Nya. Ketika itu kau tidak peduli lagi terhadap orang yang bersimbah dunia atau disibukkan oleh keduniaan, juga tidak memperdulikan orang-orang yang haus menguasai dunia.

5.) Orang beriman itu ialah orang yang berguru sesuatu yang diwajibkan kepadanya, kemudian selalu beribadah kepada Allah. Ia mengenal Allah kemudian mencintai-Nya, mencari dan melayani-Nya. Ia juga tahu bahwa bahaya, manfaat, baik atau jelek itu bukan tiba dari makhluk, dan apapun yang menimpa makhluk itu ialah dari Allah Azza wa Jalla. Orang yang menuju kepada Allah itu lebih hening daripada orang yang menuju kepada makhluk, alasannya ialah makhluk itu beraneka macam, sedangkan Allah hanya satu. Maka orang yang menghadapi banyak sekali macam masalah, hatinya tidak akan tentram, dan ketentraman hati itu tercapai jikan hanya tertuju kepada Allah semata.

6.) Wahai hamba Allah, orang muslim ialah orang yang selalu bersyukur atas nikmat dan ketentuan-Nya, mereka selalu mengingat Allah melalui mulut kemudian mengalir ke hati. Jika mereka tertimpa penyakit, tampak di wajah mereka tersungging senyuman. Bagi mereka dunia tidak lebih bagai bangkai, tidak berdaya, pesakit, fakir, dan nirwana maupun neraka bagi mereka tidaklah punya makna. Mereka tidak merasa fakir, mereka bederma bukan untuk memperoleh kenikmatan dalam surga, dan juga bukan lantaran takut siksa neraka. Tetapi semua yang dilakukan itu hanyalah semata-mata untuk mengagungkan dan dzikir kepada-Nya, mendekat dan mengabdi kepada-Nya sebagai kiprah setiap makhluk kepada penciptanya. Maka setiap kecenderungan dan keberadaan mereka selalu terjalin dengan Allah, sehingga terjadi relasi yang erat dengan Allah.

7.) Wahai hamba Allah, orang yang takut kepada Allah itu hanyalah orang yang berilmu. Mereka ialah golongan orang-orang yang saat bekerja ialah dengan ilmu, bederma dan memahami apa yang diamalkan, mereka tidak mencari jawaban dari Allah Yang Haq terhadap apa yang dikerjakan, kecuali mereka hanya mengharap ridha Allah dan bisa erat dengan Allah. Mereka menghendaki kecintaan, ikhlas, dan terbuka hijab yang menghalanginya. Mereka menghendaki biar pintu-Nya tidak tertutup di hadapannya, dunia dan akhirat. Mereka tidak terlalu cinta hidup di dunia juga di akhirat, dan yang lain selain Allah. Dunia untuk manusia, alam abadi untuk manusia, sedangkan Allah Al-Haq untuk orang beriman semata, untuk orang-orang yang bertakwa dan untuk orang-orang berakal yang selalu mencintai-Nya, yakin dan khusyu’ di hadapan-Nya.



8.) Sabda Nabi: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, harum baunya dan enak rasanya. Adapun perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah kurma, tidak berbau tetapi bagus rasanya.” (Al-Hadits)

9.) Wahai hamba Allah, sangat beruntung orang yang mengenal Allah Azza wa Jalla, dengan kenikmatan-Nya dan menyandarkan semua urusannya kepada-Nya, membersihkan jiwanya dari sebab-sebab, daya, dan kekuatannya. Orang berakal tidak memperhitungkan amalnya untuk Allah, tidak mencari pahala atas perbuatan baiknya.

10.) Marah jikalau dilandasi lantaran Allah ialah murka yang terpuji, tetapi jikalau lantaran terdorong oleh yang lain berarti murka yang tercela. Orang mukmin itu murka lantaran Allah, bukan lantaran diri sendiri. Ia murka lantaran untuk menolong agamanya, bukan untuk menolong diri sendiri. Ia gampang geram jikalau hukum-hukum Allah dipermainkan, mirip kegeraman singa tatkala menerkam buruannya.

11.) Wahai hamba Allah, apabila Islam tidak terdapat di dalam jiwamu maka bagaimana kepercayaan bisa tumbuh dalam jiwamu. Jika keimanan itu tidak terdapat dalam jiwamu berarti kau tidak punya keyakinan. Jika keyakinan tidak kau miliki berarti kau tidak punya kebaikan. Inilah derajat yang tumbuh dalam jiwa. Jika Islammu murni maka murni pula penyerahanmu. Jadilah kau orang yang menyerahkan diri kepada Allah mencakup keberadaanmu, beserta memelihara aturan syara’. Serahkan jiwamu berdasarkan kewajibannya, perbaikilah budpekerti bersama-Nya dan makhluk-Nya. Janganlah kau menganiaya dirimu sendiri atau orang lain, lantaran perbuatan aniaya itu menggelapkan hati, menggelapkan muka dan catatan amal. Janganlah kau menganiaya atau menolong orang yang menganiaya.

12.) Wahai orang yang berakal, bahwa kau tak henti-hentinya membenci orang-orang miskin padahal kau mengharap ridha Allah. Maka mustahil keridhaan-Nya diberikan kepadamu sebelum kau menyukai orang-orang miskin dan menyukai kemiskinan. Dan jikalau kau membenci orang-orang miskin dan membenci kemiskinan tentu kau akan memperoleh kemurkaan-Nya.

13.) Manusia yang hatinya hening dan menjalankan perintah-Nya dengan istiqomah, maka ibarat malaikat bahkan mereka diberi suplemen berupa manzilah-manzilah. Mereka dibekali dengan ma’rifat dan berilmu perihal Dia, sedang para malaikat menjadi pembantu dan pengikut mereka untuk menyerap kegunaan mereka, lantaran banyak sekali pesan yang tersirat telah dituangkan dalam hati mereka. Maka, jikalau kau ingin berpegang dengan manzilah-manzilah mereka hendaklah kau jaga kebenaran Islam, sehabis itu tinggalkan perbuatan dosa, baik dosa lahir maupun batin, kemudian bersikap wara’, menerapkan zuhud di dunia, baik terhadap yang diperbolehkan atau yang dihalalkan, memperkaya diri dengan keutamaan Allah, berzuhud dalam keutamaan-Nya, dan memperkaya diri dengan mendekati Allah. Apabila rasa memperkaya diri telah aktual secara higienis pasti keutamaan-Nya dicurahkan kepadamu, dan pintu-pintu pembagian-Nya terbuka untukmu mencakup pintu kelembutan, rahmat, dan pertolongan-Nya.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani
1.) Pengaruh negatif dari harta :

a. Harta sanggup membawa kepada aneka macam macam dosa, dikarenakan sebagai sarana nafsu yang bermacam-macam. Seorang yang tidak mempunyai biaya untuk melaksanakan suatu dosa, hatinya tidak bergerak untuk melakukannya. Timbulnya hasrat untuk berbuat dosa yakni bila diri kita merasa sanggup, dan harta merupakan sumber kesanggupan yang menggerakkan orang kepada aneka macam perbuatan maksiat dan perbuatan dosa. Jika menuruti cita-cita diri pasti akan binasa, dan jikalau ditahan akan terasa pahit. Itulah sebabnya bersabar ketika sanggup yakni lebih berat, ujian senang lebih berat daripada ujian susah.

b. Harta itu menarik kepada bermewah-mewah di bidang yang mubah. Mana sanggup orang yang berharta hanya makan makanan yang sangat sederhana, berpakaian seadanya, menyerupai yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Kalau sudah terbiasa menikmati keduniaan dan membiasakan diri dengan kemewahan, kemudian kemewahan menjadi kebiasaan dan hobbi yang tak sanggup ditinggalkan lagi, mungkin suatu dikala tidak akan sanggup membiayainya dari perjuangan yang halal. Maka terjerumuslah kita ke bidang syubhat dan terbenam dalam riya, berdusta, munafik dan timbul semua sifat dan watak tercela, biar urusan dunianya sanggup terurus dan sanggup terus hidup mewah.

Orang yang banyak harta akan banyak pula kebutuhannya atau ketergantungannya kepada orang lain, dan barangsiapa yang memerlukan orang lain sanggup dengan terpaksa harus ambil muka kepada mereka. Dari ketergantungan atau keperluan terhadap orang lain, timbullah persahabatan dan permusuhan yang sanggup menjadi sumber iri, dengki, riya, sombong, berdusta, hasud, fitnah, bergunjing dan semua dosa hati dan dosa lidah, yang selanjutnya sanggup menular ke seluruh aspek. Semuanya itu timbul dikarenakan harta dan didesak kepentingan dalam menjaga dan mengurusnya.

c. Tidak sanggup dipungkiri bahwa mengurus harta itu menimbulkan orang lalai dari mengingat Allah, dan setiap hal yang mengganggu dari mengingat Allah yakni suatu kerugian.

Nabi Isa as. mengambarkan bahwa dalam berharta terdapat 3 macam ancaman :

1. Diambil dari sumber yang tidak halal.

2. Jika diambil dari sumber yang halal, dibelanjakan tidak pada tempatnya.

3. Jika dibelanjakan pada tempatnya, kita akan terganggu dari mengingat Allah lantaran mengurusnya.

2.) Bebaskanlah dirimu dari kepentingan dunia lantaran dalam waktu akrab ini kau akan tercabut daripadanya, dan dunia yang kau cari dengan susah payah itu akan kau tinggalkan dengan begitu saja, dan yang kau tumpuk-tumpuk itu akan dijadikan rebutan oleh jago warismu, yang selanjutnya akan mencelakakan keluarga kau sendiri. Maka, janganlah kau mencari kehidupan di muka bumi ini untuk bersenang-senang dengannya. Kehidupan dunia yakni kehidupan yang semu, kehidupan yang penuh tipuan dan permainan.

Sampai kapanpun kalau insan itu hanya mementingkan kehidupan dunia, maka ia akan tertipu dan akan dipermainkan oleh kehidupan dunia itu sendiri, ia akan dijadikan budak dunia, disuruh ini dan itu, disuruh pergi kesana kemari, hanya untuk mengurus urusan dunia dan kesenangannya yang tak pernah kunjung datang.

Mengejar kehidupan dunia yakni mengejar bayangan fatamorgana, yang disangkanya penuh air kesejukan, padahal semua hanya bayangan, semakin dikejar semakin jauh dan sehabis didekati hanya panas terik matahari, kemudian fatamorgana itu pindah ke daerah yang lebih jauh lagi, dimana hingga matipun belum ketemu apa yang bergotong-royong dicarinya, lantaran yang dicari yakni kehidupan semu.

3.) Wahai hamba Allah, kau pasti mencicipi kemanisan, kepahitan, kebaikan, kerusakan, kekotoran dan kejernihan. Apabila kau ingin higienis secara tepat maka lepaskanlah hatimu dari makhluk, jalinlah kekerabatan dengan Allah Azza wa Jalla, lepaskan dunia, tinggalkan keluargamu, dan serahkan mereka kepada Allah lantaran semua itu hanya ada di tangan Allah, maka kau pasrahkan saja sepenuhnya kepada Allah, kau asuh mereka untuk mengabdi kepada Allah. Wahai hamba Allah, janganlah kau menjadi insan jahil yang khawatir anaknya kelaparan, yang hatinya goncang lantaran memikirkan nasib perekonomian anak-anaknya nanti, tetapi tidak memikirkan apa yang hendak disembah anak-anaknya itu, menyembah dunia atau menyembah Allah Azza wa Jalla.


4.) Kebanyakan insan itu cenderung mendahulukan istri dan anak-anaknya daripada mendahulukan ridlo Allah. Sesungguhnya saya melihat setiap gerak menuju kepada keduniaan, setiap tujuanmu, istrimu, anak-anakmu, dan apapun itu hanyalah barang yang semu. Kamu lebih mementingkan urusanmu, urusan anak istrimu, kau tumpuk harta benda untuk perbekalan anak istrimu, kau berbuat dusta dan munafik lantaran mementingkan urusan dunia, biar sanggup menumpuknya, tetapi kau tidak memikirkan bagaimana nasibmu, nasib anak istrimu sehingga kau dan keluargamu tidak punya akidah yang kuat, sehingga hatimu dan hati keluargamu goncang, tidak tahu siapa Tuhannya.

5.) Wahai hamba Allah, tinggalkanlah olehmu sesuatu yang dibagikan, dan sesuatu yang tidak dibagikan, lantaran pencarianmu terhadap sesuatu yang belum Allah bagi atau beri yakni sangat dibenci dan tercela, sedang pencarianmu terhadap sesuatu yang telah Allah bagi yakni cela dan aib.

6.) Wahai hamba Allah, berfikirlah kau bahwa rezeki itu berdasarkan ketentuan pembagiannya. Jika sudah terbagi maka rezeki itu tidak akan bertambah maupun berkurang, tidak sanggup dipercepat maupun diperlambat. Janganlah kau merasa ragu atas jaminan Allah. Janganlah kau serakah dan rakus mencari sesuatu yang tidak dibagikan kepadamu.

7.) Wahai hamba Allah, renungkanlah dalam-dalam siapakah yang memberi makan dirimu tatkala kau masih dalam perut ibumu?. Setelah lahir, anehnya kau bergantung pada diri sendiri dan orang lain, pada uangmu, pada perdaganganmu, pada teman-temanmu, dan pemimpinmu. Ingatlah, bahwa setiap orang yang bergantung kepada mereka, maka orang itu menuhankan mereka. Setiap orang yang kau takuti atau kau harap, berarti kau pertuhankan. Setiap orang yang kau pandang punya kekerabatan dengan datangnya ancaman dan manfaat, maka berarti kau pertuhankan.

8.) Wahai hamba Allah, ketahuilah olehmu bahwa dunia itu sudah terbagi semenjak dahulu. Oleh lantaran itu tinggalkan pencarian dunia yang menimbulkan kesusahan. Kamu bekerja itu yakni ibadah, kau dihentikan malas hidup di dunia akan tetapi semangat kerjamu itu bukanlah untuk mencari dunia. Maksudnya yakni kau harus merasa cukup dengan apa yang kau peroleh, kau harus bekerja dimana di dalam bekerja janganlah mencari sesuatu yang kau anggap kurang lantaran sesuatu yang kau anggap kurang itu memang bukan bagianmu, bukan milikmu. Inilah yang dinamakan sifat qona’ah, yaitu hati merasa cukup terhadap sesuatu yang diperoleh dan terus bekerja lantaran insan harus bekerja dan beribadah kepada-Nya.

9.) Harta dalam kehidupan insan mempunyai kiprah yang sangat penting. Dengan harta insan sanggup selamat dan berbahagia di dunia dan alam abadi jikalau harta bendanya dipergunakan untuk berbuat kebaikan. Banyak insan jadi hancur lantaran harta, disebabkan harta bendanya dijadikan sarana untuk melaksanakan perbuatan dosa. Maka, berhati-hatilah terhadap ancaman yang tersimpan dalam harta. Harta itu bagaikan ular atau kalajengking, siapa yang tidak pintar mengurusnya akan tergigit atau tersengat, gigitannya ataupun sengatannya mengandung racun yang mematikan. Akan tetapi, racun tersebut bagi orang yang arif sanggup dijadikan obat yang bermanfaat bagi manusia.

Wahai hamba Allah, jikalau kau memandang harta, pandanglah dari sudut bahayanya, jangan kau pandang dari segi manfaatnya. Jika kau pandang dari sudut bahayanya, harta itu akan kau pergunakan untuk beribadah, tetapi jikalau kau pandang dari sudut manfaatnya, maka harta itu akan kau simpan untuk kepentingan keluargamu sehingga kau menjadi insan yang bakhil, menjadi insan terkutuk dan rakus terhadap harta.

10.) Wahai hamba Allah, sebentar lagi kau akan mati, maka ratapilah jiwamu sebelum diratapi orang. Kamu menyimpan banyak dosa yang menjadikan terkena siksa yang menghinakan. Hatimu terlalu menderita lantaran cinta dan serakah dunia. Maka tinggalkanlah pencarian yang menganiaya dirimu, terimalah apapun yang menyukupi (keperluan) dirimu. Akal mustahil pernah besar hati dengan sesuatu yang diperoleh, halalnya dihisab, dan haramnya disiksa. Celakanya, kebanyakan insan telah lupa siksa dan hisab.

11.) Terhadap apapun yang dirimu berada di dalam dunia ini tidak membawa manfaat untukmu di hari kiamat, bahkan sanggup membawa sengsara bagimu. Akan tetapi jikalau dunia ini kau letakkan di luar dirimu, kau letakkan untuk kebajikan, bukan untuk dirimu sendiri, maka hal tersebut akan membantu dirimu, menjadi pelayanmu, bukan kau yang menjadi pelayan dunia. Maka gunakanlah dunia ini sebagai alatmu untuk mencari dan mendekat kepada Allah, dan jangan hingga dirimu diperalat dunia sehingga kau dijauhkan dari Allah.

12.) Wahai orang yang mengadu kepada makhluk, peristiwa akan menimpamu. Mana mungkin pengaduanmu sanggup bermanfaat bagimu. Pengaduan kepada makhluk tidak akan bermanfaat atau membawa mudharat, lantaran makhluk itu tidak sanggup memberi manfaat ataupun memperlihatkan bahaya. Apabila kau berpegang teguh kepada mereka dan menyekutukan Allah, yakni menjauhkan dirimu dari-Nya sedang kemarahan-Nya tertuju kepadamu, dan Dia tertutup bagimu.

13.) Wahai orang yang berpaling dari Allah dan dari orang-orang siddiq dari hamba-Nya lantaran menghadap makhluk, hingga kapan kau menghadap mereka?. Di tangan mereka tidak mengandung nista atau manfaat, juga bukan pemberi atau pencegah. Tiada pembeda antara mereka dan seluruh insan jikalau dikaitkan dengan nista dan manfaat. Penguasa hanya satu, Pemberi nista hanya satu, Pemberi manfaat hanya satu, Penggerak dan Pendiam hanya satu, Pemberi dan Pencegah juga hanya satu. Dia Maha Pencipta dan Pemberi rezeki. Dia Qadim lagi Azali untuk selamanya. Dia ada sebelum makhluk, sebelum nenek moyangmu atau orang-orang kaya diantara kamu. Dia Pencipta langit dan bumi dengan segala isinya. Dialah Allah Ta’ala, Tuhan Yang Maha Luhur.

14.) Wahai hamba Allah, seluruh makhluk ini kedudukannya hanya sebagai alat untuk mendekat dan mengabdi kepada-Nya, tidak lebih dari itu. Allah yang mengaturnya, dan siapa yang memahami ini akan memperoleh manfaat dengan alat dan mengetahui Zat Pengatur disana. Berdiam bersama makhluk sangatlah tercela dan berdiam bersama Allah yakni terpuji dan sebagai kebaikan serta sebagai kenikmatan.

15.) Wahai hamba Allah, jikalau kau ingin senang keluarkan makhluk dari hatimu, janganlah kau takut atau mengharap mereka, jangan bergaul bersama mereka, janganlah hatimu kau lekatkan kepadanya, lantaran hati yang lekat dengan makhluk akan menemui kesusahan dan kegoncangan. Ingatlah bahwa kebahagiaan hati itu bila untuk mengingat Tuhan, untuk melihat-Nya.



16.) Wahai hamba Allah, dahulukan alam abadi atas dunia tentu kau akan meperoleh kebahagiaan dari keduanya. Apabila dunia lebih kau dahulukan dan lebih kau pentingkan daripada akhirat, pasti kau akan rugi besar, bahkan siksa selalu menantimu. Apabila kehidupan alam abadi lebih kau utamakan dan lebih kau pentingkan, maka semua urusanmu di dunia ini selalu jadi baik, kau akan hidup senang di dunia dan akhirat. Tetapi kalau kehidupan dunia lebih kau pentingkan, maka sudah pasti kau akan tersiksa tatkala hidup di dunia dimana kau tidak akan menemukan kesenangan hidup di dunia, akan selalu merasa kurang, selalu tidak puas terhadap apa yang kau peroleh, dan di alam abadi nanti kau akan memperoleh siksa yang sangat pedih yang disebabkan usahamu di dunia yang selalu menyia-nyiakan kehidupan akhirat.

Wahai hamba Allah, dengarkanlah seruanku ini. Mengapa kau sibuk berurusan dengan sesuatu yang tidak diperintahkan kepadamu untuk melakukannya. Apabila kau tidak berambisi dan tidak rakus terhadap kenikmatan dunia, tentu Allah melanggengkan pertolongan-Nya dan menganugerahkan taufik pada dikala pencabutan kembali dunia itu. Apabila kau ambil sesuatu dari dunia sama halnya kau sia-siakan barokah yang ada di sana.

17.) Dunia yakni sebuah gedung khusus untuk berinfak dan bersabar atas datangnya cobaan dan ujian. Dunia yakni gedung daerah berusaha, dan alam abadi yakni gedung khusus untuk beristirahat. Orang beriman ketika di dunia ulet melaksanakan tugasnya tentu ia akan leluasa beristirahat di akhirat. Tetapi bagi yang sangat suka beristirahat sekarang, mengulur-ulur tobat dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun hingga habis masa tobatmu, maka dalam waktu akrab akan menyesal. Jika tidak sanggup dinasihati, tidak bangkit dan membenarkan, maka kau selamanya tidak akan mengenal kebenaran.

18.) “Dunia itu ladang akhirat, maka barangsiapa menanam kebaikan, tentu ia akan mendapatkan balasannya dengan rasa puas, dan barangsiapa menanam keburukan, maka akan menghasilkan kehancuran”. (Al-Hadits)

Bila tiba tamat hidup kepadamu, barulah kau sadar, akan tetapi kesadaranmu pada dikala itu tidak mempunyai kegunaan sama sekali. Ya Allah, bangunkanlah kami dari tidur yang melalaikan Engkau, jagalah kami dari ketumpulan yang melupakan Engkau. Amiin.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani
1.) Berilah pendidikan yang baik kepada orang yang kau kuasai urusannya dan pendidikannya, dan orang yang wajib kau perhatikan. Sabda Nabi: “Janganlah kau angkat tongkatmu kepada keluargamu, melainkan takut-takutilah mereka kepada Allah”.

2.) “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.” (Al-Hadits)

Janganlah kau berbicara berlebih-lebihan lantaran bahayanya banyak bicara ialah kedustaan. Orang yang banyak bicaranya itu banyak pula dustanya.

3.) Wahai hamba Allah, hormatilah orang yang mencintaimu serta balaslah kecintaannya dengan mencintainya pula. Janganlah kau murka bukan lantaran Allah dan janganlah kau memerintahkan orang untuk melaksanakan kebaikan kecuali kau sendiri mulai melakukannya. Janganlah kau melarang orang dari melaksanakan keburukan sebelum kau sendiri mulai meninggalkannya.

4.) Wahai hamba Allah, sambunglah orang yang tetapkan korelasi denganmu, maafkanlah orang yang manganiaya dirimu, dan berilah orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepadamu.

5.) Janganlah kau melanggar apa yang kau larang. Apabila kau berkata hendaklah yang ringkas, jangan ngawur.

6.) Janganlah kau melaksanakan perbuatan rahasia, yang tidak baik kalau kau lakukan secara terang-terangan. Jagalah dirimu dari segala sesuatu yang sanggup mengakibatkan dugaan yang tidak baik mengenai agamamu dan duniamu.

7.) Sedikitkan permintaanmu kepada orang lain, lantaran hal itu merupakan suatu kehinaan pada dirimu.

8.) Wahai hamba Allah, jauhkanlah dirimu dari orang yang kotor mulut, janganlah kau duduk dengan orang-orang yang lemah akhlaknya. Dari Ibnu Mas’ud: “Nilailah insan itu dengan teman-temannya, lantaran seseorang itu hanya berteman dengan orang yang ibarat dirinya”.

9.) Tolonglah orang yang teraniaya dan belalah beliau semampumu serta cegahlah tangan orang zalim biar tidak melaksanakan kezaliman. Sabda Nabi: “Barangsiapa berjalan dengan orang yang teraniaya sehingga ia sanggup tetapkan haknya, maka Allah akan mengukuhkan kakinya pada hari tergelincirnya kaki-kaki insan (hari kiamat)”.

10.) “Sesungguhnya yang saya takutkan kepadamu ada dua macam; mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan”. (Al-Hadits)

Ingatlah bahwa menuruti hawa nafsu itu akan menghalangi orang melaksanakan kebenaran, dan panjang angan-angan itu menjadikan orang lupa alam abadi dan lupa Allah Azza wa Jalla.

11.) Wahai hamba Allah, terimalah usul maaf orang yang meminta maaf kepadamu, dan tariklah apa yang kau benci. Sabda Nabi: “Barangsiapa meminta maaf kepada saudaranya sesama muslim, lantas beliau (yang dimintai maaf) tidak menerimanya, maka beliau berdosa sebagai orang yang berbuat jahat”. (Al-Hadits)

12.) Kasihanilah orang lain pasti Allah mengasihani kamu. Jika kau tidak mengasihi orang lain, maka Allah pun tidak akan mengasihimu.

13.) Hendaklah kau suka mentaati Allah pasti Allah akan mencintaimu dan menjadikan makhluk-Nya cinta kepadamu.

14.) Wahai hamba Allah, apabila kau bersumpah untuk melaksanakan sesuatu yang bukan merupakan ketaatan kepada Allah, maka janganlah kau melaksanakannya, dan bayarlah kaffarat (tebusan) untuknya.

15.) Berterima kasihlah kepada orang lain atas kebaikan mereka kepadamu, dan balaslah kebaikannya itu kalau kau mampu.

16.) Janganlah kau bertengkar dengan seseorang sekalipun kau benar. Jika kau hendak melaksanakan sesuatu dari urusan dunia, maka pikirkanlah akibatnya.

17.) Wahai hamba Allah, janganlah kau merasa suka kalau seseorang ditimpa sesuatu yang kau sendiri tidak suka mengalaminya.

18.) Sabda Nabi: “Tiadalah Allah memberi suatu nikmat kepada seseorang kemudian ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’, melainkan perilaku dan ucapan yang demikian itu lebih besar daripada nikmat itu sendiri, meski sebesar apapun nikmat itu”.

19.) Jika kau ingin melaksanakan sesuatu yang merupakan ketaatan kepada Allah, maka janganlah kau menunda-nunda kalau kau sanggup melakukannya segera, lantaran dirimu sendiri tidak dijamin kondusif dari peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi. Jika kau punya cita-cita lain yang bukan merupakan ketaatan kepada Allah, kalau kau sanggup untuk tidak melaksanakannya, maka janganlah kau laksanakan. Semoga Allah menawarkan kesibukan lain untukmu sehingga kau meninggalkannya.

20.) Janganlah kau menyebut-nyebut kebaikan yang pernah kau berikan kepada seseorang, lantaran yang demikian itu sanggup menghilangkan pahalamu. Jika ada orang yang berbuat kebaikan kepadamu sedang kau tidak sanggup membalasnya, maka pujilah beliau dan sebut-sebutlah.



21.) Kalau kau telah bersumpah untuk melaksanakan sesuatu sedangkan orangtuamu atau salah satunya bersumpah biar kau melaksanakan sesuatu yang berbeda dengan yang kau kehendaki, maka taatilah kedua orang tuamu asalkan perintah mereka itu bukan maksiat.

22.) Jadilah kau seolah-olah malaikat pencabut nyawa telah mencabut nyawamu, seolah-olah bumi menelanmu, seolah-olah gelombang dahsyat menyedotmu ke dalam lautan dan meneggelamkanmu. Barangsiapa telah hingga pada kondisi ini pasti aturan lantaran akhir tidak kuat lagi bagimu. Karena, keberadaan itu hanyalah berdasarkan pandangan lahiriah saja, bukan berdasarkan alam batin.

23.) Wahai insan jahil, kau ingin mengubah dan mengganti kehendak-Nya, apakah kau mengaku menjadi yang kuasa kedua sesudah Allah Azza wa Jalla, dimana kau memaksa Dia biar menyesuaikan suatu hal menjadi kebalikannya.

24.) Orang-orang yang beriman itu tetap bertahan dari cobaan dan ujian Allah, bahkan cobaan dan ujian tersebut malah mengantarkan dirinya ke puncak kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam menghadapi cobaan dan ujian tersebut ialah mendapatkan dan sabar dalam menghadapinya tanpa mengadu kepada orang lain atau meminta dukungan pada selain Allah, bahkan ketika itu beliau lebih ulet dan lebih sibuk bersama Allah Azza wa Jalla.

25.) Siapa yang tidak berbudi dengan pendidikan syariat, pasti beliau akan dididik dengan api neraka di hari final zaman nanti.

26.) Wahai hamba Allah, bertobatlah kamu. Apakah kau tidak tahu bahwa Allah Azza wa Jalla menguji kau dengan suatu ujian itu biar kau bertobat kepada-Nya, tetapi kau tidak memikirkan untuk melepas maksiat terhadap-Nya ?

27.) Wahai hamba Allah, insan telah disediakan celaan dan kebanggaan ibarat ekspresi dominan panas dan ekspresi dominan dingin, atau ibarat siang dan malam. Keduanya sama-sama tidak lepas dari pengawasan Allah. Oleh lantaran itu tidak seorangpun yang bisa mendatangkan celaan dan kebanggaan atau salah satunya, kecuali dengan izin Allah. Apabila hal tersebut telah terperinci bagimu, maka kau tidak perlu besar hati dengan kebanggaan dan tidak cemas dengan adanya celaan.

28.) Wahai manusia, celaka benar kau yang mengikuti perbuatan andal neraka tetapi mengharapkan surga. Ini memperlihatkan kerakusanmu yang tidak pada tempatnya, lantaran kau tidak berhak memperoleh apa yang kau harapkan itu dikarenakan jalan yang kau tempuh ialah menyimpang jauh. Janganlah kau terperdaya oleh kenikmatan dunia yang kau sangka kau peroleh. Padahal dalam waktu erat hal itu akan tercabut darimu. Allah akan merendahkan kehidupanmu sehingga kau tunduk dan patuh kepada-Nya.

29.) Wahai hamba Allah, jadilah kau orang yang benar, tentu kau akan baik. Jadilah kau pembenar dalam hukum, tentu kau baik dalam keilmuan. Jadilah kau baik dalam perasaan, tentu kau baik dalam kenyataan. Setiap keselamatan yang ada dalam ketundukan kepada Allah ialah sebagai perwujudan dari melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya serta sabar atas ketentuan-Nya. Barangsiapa menuruti Allah, tentu Allah mengabulkan permohonannya dan doanya, dan siapa yang tunduk kepada Allah, tentu orang lain akan tunduk kepadanya.

30.) Wahai hamba Allah, tunduklah kau kepada-Nya untuk mencari ridha-Nya. Jagalah sesuatu yang diberikan dan yang mengakibatkan siksa. Taat kepada Allah ialah melaksanakan segala perintah dan menghentikan segala yang dihentikan serta bersabar atas ketentuan-Nya.

Bertobatlah kamu, menangislah di hadapan-Nya, rendahkanlah dirimu dengan derai air mata sepenuh hati. Menangis lantaran takut kepada-Nya itu suatu ibadah dan mata yang menangis lantaran takut Allah itu tidak akan tersentuh oleh panasnya api neraka di alam abadi nanti, maka menangislah kau lantaran menangis itu membawa manfaat bagimu.

Wahai hamba Allah, mengapa kau menuhankan dirimu, informasi apa yang kau terima hingga kau sombong kepada Allah Azza wa Jalla. Mengapa kau berkehendak selain yang Dia kehendaki, bahkan kau cinta musuh-musuh-Nya, setan yang terkutuk. Mengapa kalau keputusan Tuhan telah tiba kau berontak tidak sabar, bahkan kau lari dan mencabut apa yang menjadi kehendak-Nya. bersambung

31.) Sabda Nabi: “Apabila seorang hamba malas dalam beramal, pasti Allah Azza wa Jalla mengujinya dengan rasa murung cita.” (Al-Hadits)

Siapapun yang malas beramal, maka akan memperoleh cobaan dari Allah berupa murung cita, kegoncangan, dan kesusahan. Ujian itu mungkin berupa surutnya rezeki sehingga hatinya ragu dan susah, dan ujian murung cita itu menetap dalam hatinya sehingga apapun yang dihadapinya selalu dihantui oleh perasaan susah dan goncang, hatinya tidak tenang, perasaannya selalu pesimis dan selalu dihantui perasaan kurang, kurang baik, kurang banyak, kurang cantik, kurang sempurna, dimana perasaan goncang menyerupai itu alasannya yaitu malas bersedekah dan sedikitnya melaksanakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

32.) Sabda Nabi: “Barangsiapa hari-harinya sama berarti ia tertipu. Dan barangsiapa hari kemarin lebih baik daripada hari ini berarti ia tertutup dari rahmat.” (Al-Hadits)

33.) Tobat itu landasan iman, penekunannya terletak dalam berdzikir dan taat kepada-Nya. Jika ditekuni pasti dzikir itu menjadi obat jiwa. Bertobatlah dengan mulut iman, pasti membawa keberuntungan. Jadikanlah kepercayaan sebagai pedangmu saat tiba ujian Allah.

34.) Bertobatlah kepada Allah, janganlah kau bersedekah baik kecuali untuk-Nya, jangan kau tujukan kepada dunia atau kepada akhirat. Jadilah kau menyerupai orang yang berhasrat kepada-Nya semata, berikan hak ketuhanan-Nya. Dia harus kau sembah. Janganlah kau bersedekah untuk mencari pujian, rezekimu itu tidak bertambah atau berkurang, alasannya yaitu sesuatu yang telah diputuskan untukmu itu pasti datang, baik yang berupa kebaikan atau keburukan. Persempitlah kerakusanmu dan jadikanlah maut sebagai titik pandangmu semoga kau tidak terlalu menyimpang jauh dari kebenaran.
35.) Wahai hamba Allah, sibukkanlah dirimu untuk membantu orang-orang yang terjepit, orang-orang yang teraniaya. Berikanlah waktumu kepada orang-orang fakir miskin yang terpedaya, alasannya yaitu jikalau waktumu tersita untuk menolong hamba-hamba Allah, yaitu sama halnya kau menolong Allah Azza wa Jalla.

36.) Tinggalkanlah berbesar diri di hadapan Allah atau terhadap sesamamu, alasannya yaitu perbuatan itu termasuk diantara sifat orang sombong yang muka mereka akan diasah oleh Allah dengan api jahanam. Termasuk orang sombong pula jikalau kau murka kepada-Nya. Seperti halnya jikalau kau mendengar bunyi adzan tetapi tidak menjawabnya, tidak bersegera mengerjakan sholat maka berarti kau telah berlaku sombong kepada Allah. Dan bila insan berbuat aniaya terhadap sesamanya berarti ia telah berbuat sombong di hadapan-Nya.



37.) Janganlah kau menganggap dirimu lebih berharga, lebih mulia, lebih terhormat, lebih kuat, lebih gagah, dan lebih bakir daripada orang lain. Karena, sifat demikian yaitu kesombongan dimana alasannya yaitu memiliki sifat serba merasa lebih inilah hasilnya menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. “Sombong yaitu menolak kebenaran dan menghinakan orang lain”. (Al-Hadits)

38.) Dilihat dari sasarannya, ada 3 macam sombong :

a. Sombong kepada Allah, dalam arti tidak memperhatikan sama sekali ancaman-ancaman Allah, syariat Allah dianggap suatu hal yang remeh, dan tidak mau mengamalkannya. Kalau insan sudah bersifat menyerupai itu, maka tidak tertutup kemungkinan timbul dalam jiwanya sifat jahat, tidak peduli lagi terhadap aturan-aturan yang berlaku.

b. Sombong kepada Rasulullah saw., yaitu tidak mengindahkan sama sekali aturan-aturan Rasulullah saw., bahkan Rasulullah saw. dianggap sebagaimana insan biasa yang tak perlu diperhatikan ucapannya. Dan hadits-hadits Rasulullah saw. dianggapnya menyerupai omongan insan yang tidak mengandung pesan yang tersirat dan pelajaran bagi manusia. Ia lebih mementingkan pikirannya daripada ucapan Rasulullah saw.

c. Sombong terhadap sesama manusia, yaitu orang lain dianggap hina dan rendah, tidak perlu dihormati, dan bila perlu insan harus menghormat kepadanya. Akhirnya timbul rasa gembira terhadap dirinya sendiri, ingin dihormati, ingin diperhatikan, dan lain-lain sifat tercela tumbuh dalam jiwanya. Orang yang sombong tidak pantas bagi dirinya kecuali memperoleh siksa neraka.

39.) Wahai hamba Allah, carilah kedudukan di sisi Allah, impikanlah, dan jadikanlah kecenderunganmu untuk-Nya, tinggalkanlah mencari dunia alasannya yaitu hal itu tidak akan memberi kepuasan, alasannya yaitu selain Allah tidak akan pernah memuaskanmu. Oleh alasannya yaitu itu, rapatkan dirimu dengan-Nya, alasannya yaitu dengan cara itulah kau akan bisa memuaskan hatimu, dan jikalau berhasil tentu bisa mencapai kecukupan dunia akhirat. Butuhkan dirimu hanya kepada-Nya, carilah Dia yang mencintaimu, cintailah Dia yang mencintaimu, dan sibukkan dirimu bersama-Nya semoga kau termasuk orang-orang yang selalu mencintai-Nya dan dicintai-Nya.

Wallahu A’lam


Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani